Antara Beradab dan Biadab


Di mana-mana, di muka bumi ini semua orang yang mendatangi sebuah tempat yang masih terpencil, jauh dari keramaian kota, tertinggal dalam hal pendidikan dan pembangunan, akan selalu beranggapan bahwa dirinya lebih beradab dan lebih unggul dibandingkan masyarakat sekitar. Hal tersebut telah kita lihat dalam dinamika sejarah beberapa negara. Hindia Belanda, begitulah nama  negara Republik Indonesia (nusantara dulunya) yang diberikan oleh Belanda. Dalam tulisan ini, bukan letak geografi ataupun asal-usul sebuah negara yang akan dibahas. Melainkan, penulis akan membahas tentang sikap dan sifat superioritas dari sekumpulan orang yang mengklaim dirinya lebih beradab, dari sekumpulan manusia yang berada pada lingkungan geografis yang berbeda.
Teramat sering penulis mendengar, bahwa manusia yang lebih dahulu menguasai Pengetahuan dan Iptek adalah manusia yang lebih beradab. Tolak ukur untuk melihat mereka beradab mungkin dapat diukur dari kemampuan manusianya yang berpikir secara rasional dalam memandang dan memecahkan sebuah permasalahan, atau kemampuan mereka dalam menciptakan sesuatu yang berbeda, yang bermanfaat pada kehidupan-kehidupan selanjutnya. Ya, semua itu merupakan spekulasi yang keluar dari benak penulis. Dalam dunia dewasa ini, penulis melihat tingkat pengetahuan seseorang tidak menjamin seseorang tersebut menjadi beradab. Tingkat kemajuan IPTEK tidak serta merta membuat masyarakat di suatu tempat beradab. Bagi penulis, sebagian besar kemajuan tersebut memiliki sifat tendensi ke arah homo homini lupus. Pendapat tersebut bukanlah asal bunyi. Marilah kita menegok kehidupan masyarakat negeri ini. Masyarakat yang hidup di tengah-tengah “gelanggang pertarungan para gladiator” bertitel. Jika boleh meminjam perkataan Pramoedya, seorang terpelajar sudah harus adil sejak dalam pikiran. Bagi penulis, kalimat tersebut tidak terlalu relevan bagi sebagian kelompok yang mengklaim kaum beradab dan terdidik. Mereka telah menodai hakekat pendidikan.
sumber : politicalcartoons.com
Di Afrika Selatan, Nelson Mandela dengan suara lantang menuntut agar sistem politik apartheid dihapuskan. Sistem yang dibentuk oleh negara yang mempeloporikan revolusi industri. Oleh mereka yang mengobarkan semangat “South Africa a white Man’s Country”. Masyarakat Afrikaner (orang kulit putih di Afrika) yang memiliki perasaan lebih tinggi dari pada penduduk asli. Sikap para kolonis di Afrika Selatan, menurut saya mencerminkan hal yang sangat kontradiksi dari apa yang dinamakan bangsa beradab. Upaya untuk menghilangkan masyarakat setempat dari tanah kelahirannya, masihkah dikatakan beradab? “Memperkosa” hak-hak masyarakat asli, dapatkah dikatakan beradab? Saya pikir tidak.
Belanda datang ke nusantara, dan dengan secepat kilat merasa lebih unggul dari masyarakat nusantara. Hal tersebut dapat dimaklumi, menggingat mereka adalah bangsa Eropa. Bangsa yang digadang-gadang memiliki tingkat peradaban lebih tinggi. Akan tetapi, bagaimana dengan sikap dan perbuatan mereka kepada anak-anak ibu pertiwi? Soekarno bangkit dan bersuara. Meneriakan kata lawan kepada mereka yang mengklaim dirinya beradab. Mereka yang digadang-gadang lebih dulu mengenal makna demokrasi dan hukum. Akan tetapi, keberadaban mereka dijual dengan tindakan-tindakan penjajahan. Tindakan-tindakan yang ingin memperkaya kaum pendatang dan memiskinkan masyarakat nusantara. Mengambil sebesar-besarnya keuntungan dari nusantara, dan diberikan kepada pemerintahan mereka, atau terkadang nyasar ke kantung mereka.
Di era dewasa ini, seorang yang terpelajar belum tentu terpelajar. Seorang terpelajar yang selalu identik dengan kata beradab, dan mereka yang tidak sempat menjadi terpelajar disematkan kata “biadab”. Seorang terpelajar dikatakan beradab karena mereka telah banyak mengkomsumsi ilmu pengetahuan. Entah ilmu tersebut diperoleh dari bangku kelas, teman nongkrong, organisasi-organisasi tertentu ataupun diperoleh dari film dan buku. Kaum terpelajar telah mengerti tindakan mana yang melanggar hukum dan tidak. Sedangkan kaum biadab, sering kali dihubungkan dengan masyarakat yang masih primitif, masyarakat yang belum mengenal pendidikan dan insting sebagai suatu cara dalam menyelesaikan masalah. Hukum yang dikenal oleh masyarakat biadab hanyalah hukum rimba, yang kuat yang berkuasa. Semoga, di negeri yang permai ini, kaum tepelajar dapat bersikap dan berpikir seperti kaum beradab, bukan sebaliknya.

oleh : Benediktus Fatubun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *