Meninjau Bahasa, Sastra, dan Sejarah di Era Digital


Tak terasa di tahun 2017 Fakultas Sastra (FS) Universitas Sanata Dharma (USD) menginjak usia ke-24 pada 26 April. Dalam rangka memperingati hari jadinya, fakultas yang dinahkodai Dr. Paulus Ari Subagyo, M.Hum itu menyelenggarakan seminar dengan tema “Cerdas dan Humanis di Era Digital: Perspektif  Bahasa, Sastra, dan Sejarah”.  Bertempat di Ruang Koendjono Gedung Pusat USD, seminar dihadiri para mahasiswa FS, tamu undangan, dan mitra kerja fakultas. Dalam acara tersebut, empat pembicara dihadirkan untuk membedah tema seminar, yaitu Dr. P. Sunu Hadriyanta, S.J (Dosen Fakultas Farmasi USD sekaligus Provinsial Serikat Jesus Indonesia), Dr. Yerry Wirawan (Dosen Sejarah,FS, USD), FX. Risang Baskara, S.S, M.Hum (Dosen Sastra Inggris,FS, USD), dan Maria Magdalena Sinta Wardani, S.S, M.Hum (Dosen Sastra Indonesia, FS, USD).
            Dalam sambutannya, Ari Subagyo menjelaskan mengenai teori generasi. “Saat ini ada lima generasi yang mengisi bumi, yaitu generasi Baby Boomer (lahir antara tahun 1946-1964), X (1965-1980),Y (1981-1994), Z (1995-2010), dan Alpha (2011-2025),” tuturnya. Menurutnya, saat ini generasi Baby Boomer mengalami masa yang ia sebut sebagai ‘keanehan’. “Keanehan yang saya maksud di sini adalah mereka merasa terkepung oleh kemajuan teknologi yang semakin tak terbendung. Bagi yang bisa mengikuti, akan terasa mudah mengikuti dinamikanya seperti genarasi di belakangnya yang sudah lebih dahulu terbiasa, namun bagi yang tak bisa mengikuti teknologi adalah barang aneh bagi mereka,” jelasnya.
            Rektor USD, Johannes Eka Priyatma, M. Sc., Ph.D menilai teknologi sudah banyak merasuk ke dalam disiplin ilmu maupun kehidupan sehari-hari. “Sekarang sedang diteliti apakah suatu saat nanti mobil bisa berjalan sendiri dengan dikendalikan komputer, yang menjadi pertanyaan adalah jika mobil teresebut menabrak orang, siapa yang dihukum?” katanya disambut gelak tawa para hadirin. Namun menurutnya ada dua bidang ilmu yang sulit untuk disusupi teknologi, yaitu bidang sastra dan sejarah. “Dua ilmu itu sudah memiliki metode sendiri dalam penerapannya. Apakah mungkin penulisan puisi dan penelitian artefak diprogramkan dan dibuat rumus?” selorohnya.
Dr. P. Sunu Hidariyanta, S.J. saat memberikan paparan dalam Dies Natalis Fakultas Sastra USDA ke 24 (26/4). Foto : Natas
            Setelah diawali sambutan oleh dekan dan rektor, seminar dilanjutkan oleh paparan Romo Sunu yang mengangkat tema Fall In Love, Stay In Love, and It Will Decide Everything”. Dalam paparannya, ia menjadikan pidato Almarhum Rm. Ardi Handojoseno, S.J, saat puncak Dies Natalis USD ke-61 sebagai refleksi sikap kita menghadapi era teknologi. “Dalam pidatonya, almarhum mengajak untuk belajar menembus misteri berupa koneksi aneka sistem di alam raya. Bagi saya, pidato itu diam-diam ‘mentransformasi’ karena kita bisa melihat keindahan gagasan, keindahan alam, dan kadang kala mentransformasi yang lain,” jelasnya.
            Setelah Romo Sunu selesai memaparkan materinya, giliran tiga pembicara dari dosen FS yang unjuk kebolehan’. FX. Risang Baskara mengangkat tema Humanistic Language Learning in the 21st Century Classroom: A Brief Look at Practice and Application”.  Dalam paparannya, dosen muda itu banyak bercerita mengenai pengalamannya mengajar dengan basis teknologi. Pembahasan yang dipaparkan Risang mirip dengan apa yang disampaikan Yerry Wirawan. Yerry yang menempuh studi S2 dan S3 di Prancis, mengatakan bahwa teknologi bisa membantu dalam mempelajari sejarah. Ia mengambil contoh Annabel Teh Gallop, kurator naskah-naskah Melayu di British Library yang memanfaatkan Facebook sebagai media membagikan hasil penelitiannya. Sebagai penutup, Sinta Wardani menyampaikan pemikirannya tentang manipulasi bahasa dalam teror kabar bohong. Menurutnya, mengidentifikasi kabar bohong dapat dilihat dari manipulasi bahasa tindak dan manipulasi bahasa melalui pungtuasi dan huruf.“Melalui indentifikasi kabar bohong kita dapat mengetahui sumber kebenaran dan kemurnian isi berita,” jelsanya.
Penulis dan reporter: Dionisius Sandytama Oktavian  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *