Keadilan Untuk Seorang “Penista Agama”

 

 

Polisi berbaris di depan tugu Jogja ketika aksi berlangsung (10/5). Foto : Benedictus Fatubun

Memperjuangkan Keadilan Untuk Seorang “Penista Agama”

Malam tadi (10/05), tugu Jogja turut disinari ratusan lilin yang bercahaya. Massa yang memegang lilin dan berpakain putih tersebut dihimpun oleh Aliansi Merapi peduli Pancasila yang memberi dukungan kepada tersangka kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama. Dengan tema kegiatan “Justice for Ahok”, massa tersebut memberikan perlawanan terhadap ketidakadilan dan menolak sentimen agama dan rasisme di Indonesia.
Acara yang sebenarnya berlangsung dari pukul 19.00-21.00 WIB tidak dapat berlangsung lama. Terdengar kabar bahwa ada “oknum” yang  ingin melakukan kerusuhan sehingga acara harus selesai sebelum waktu yang ditetapkan. Terdengar 4 kali tembakan peringatan yang dilakukan oleh aparat keamanan malam tadi. Meski demikian, peserta tidak langsung beranjak, sebagian besar dari mereka bertahan di daerah tugu. Beberapa kali teriakan petugas keamanan dan penghimpun massa menyuruh peserta untuk pulang agar tidak menimbulkan kerusuhan. “Ayo pulang, pulang. Yang butuh dikawal hubungi kami,” ucap seorang bapak berbaju putih dengan pita hitam pada lengan kirinya.
Sekitar pukul 19.55, terdengar teriakan di sebelah barat tugu, “bubar kau, bubar kau.” Orang-orang dan wartawan berlarian menuju  ke  tugu.” Suasana sempat memanas, pukul 20.01 aparat kepolisian membentuk barisan. Tak lama kemudian beberapa laki-laki yang dianggap provokator dibawa polisi untuk diamankan.
Pukul 20.40 orang-orang pro Ahok tersebut menyanyikan beberapa lagu nasional, seperti Satu Nusa Satu Bangsa, Dari Sabang Sampai Merauke, Bagimu Negeri, dan lagu Syukur. Setelah bernyanyi, mereka melanjutkan dengan berdoa bersama untuk persatuan negeri. Selesai berdoa mereka bergegas untuk pulang. 

 

Warga Jogja ikut meramaikan aksi (10/5). Foto : Benedictus Fatubun

“Kita sudah diberi waktu, sekarang kita pulang. Kita disini hanya mau bilang Indonesia harus bersatu,” teriak seorang pemuda berpakain putih berlengan pendek membubarkan massa yang masih berdiri di sekitar tugu.

 

Penulis: Konsita B.R. Naen
Reportase bersama: Iren Lejap dan Benedictus Fatubun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *