Mobil Hemat Energi


           

Antonius Adhika Angkasa (kemeja merah)  memberikan paparannya pada seminar regional ‘Mobil Hemat Energi’ di Kampus III USD, Sabtu (13/5) Foto: natas/Dionisius

                                      

Sudah bukan menjadi rahasia umum jika Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia yang digunakan untuk kebutuhan energi makin hari makin menipis. Menurut prediksi banyak pakar energi, tahun 2045 sumber daya alam kita yang berasal dari fosil akan benar-benar habis. Beberapa waktu lalu, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis pemanfaatan SDA Indonesia. Hasilnya sesuai perkiraan, pemanfaatan untuk sektor transportasi masih menjadi yang terbanyak dari tahun 2000 hingga sekarang. Yang menjadi permenungan, bagaimana nantinya jika sumber daya alam benar-benar habis, sementara mobilitas di sektor transportasi semakin meningkat?
          Mantan Menteri Energi pada era Soeharto, Prof. Soebroto dalam artikelnya di Kompas tahun 2015 mengkhawatirkan hal tersebut. “Bahaya itu sudah di depan mata. Namun, gereget atau kemauan menemukan energi baru dan terbarukan belum terlihat,” tulisnya. Catatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 2015 menunjukkan pertumbuhan pesat jumlah kendaraan bermotor. Jika pada tahun 2000 terdapat 19 juta kendaraan, pada tahun 2014 sudah mencapai angka 114 juta kendaraan. Padahal, produksi minyak bumi Indonesia sebesar 400.000 barel per hari tak sebanding dengan penggunaannya yang mencapai 1,6 juta barel per hari.
         Permasalahan tersebut tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan seluruh dunia. Segmen otomotif tak tinggal diam menyikapi hal itu. Beberapa pabrikan mobil sudah melahirkan produk dengan energi terbarukan yang tak lagi bergantung pada minyak. Artanto Wahyudi, praktisi otomotif, dalam Seminar Regional bertemakan ‘Mobil Hemat Energi’ yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma (USD), Sabtu (13/5),  menganggap mobil hemat energi harus didefinisikan lebih detail lagi. “Hemat untuk siapa? Bagi produsen, definisi hemat berarti cost production seminimal mungkin. Bagi konsumen, yang terpenting hemat bahan bakar dan mobil itu value for money,” tuturnya.
          Menurut Artanto, dalam membuat mobil hemat energi, banyak cara yang dapat dilakukan. Ia memberi contoh pabrikan mobil asal Jepang, Mazda. Sejak 2012, brand yang mendapat julukan “BMW-nya Asia” itu mematenkan konsep ‘Skyactive Technology’. Teknologi tersebut berupa optimalisasi bodi, sasis, transmisi, dan mesin agar mampu mengefisienkan pengeluaran bahan bakar. “Teknologi ini sebetulnya sederhana. Bagaimana membuat body mobil seringan mungkin dipadu dengan coefficient of drag sekecil mungkin,” jelasnya. Selain itu, mesin mobil dirancang memiliki kompresi yang tinggi. “Kompresi tinggi memang mengharuskan kita menggunakan bahan bakar beroktan tinggi pula. Namun, bahan bakar beroktan tinggi sangat efisien karena penguapannya jauh lebih minim,” ungkap Artanto. 

Urban Gasoline, salah satu mobil buatan tim SEMAR UGM. Sumber: http://images.detik.com/customthumb/2013/06/03/157/semar-1.jpg?w=600

            Dalam hal ini, transmisi juga memiliki peranan penting. Pada masa sekarang, khususnya transmisi otomatis, sudah dirancang sedemikian rupa agar lebih efisien bahan bakar. “Transmisi otomatis zaman sekarang sudah diatur agar mampu membaca keadaan, dalam artian pada putaran mesin berapa harus berpindah gigi,” ujarnya.

           Selain optimalisasi seluruh komponen mobil, teknologi hemat bahan bakar juga bisa diwujudkan dalam konsep mobil listrik (fuel cell) dan hybrid. Baru-baru ini, Indonesia mendapat jatah 5 unit sedan Tesla untuk dipasarkan. Mobil asal Amerika Serikat yang full menggunakan energi listrik ini sudah dipamerkan dalam ajang ‘Indonesia International Motor Show’ (IIMS), awal bulan ini. Menurut Artanto, mobil ini merupakan contoh kendaraan masa depan yang tidak lagi bergantung pada minyak. Selain Tesla, pabrikan Mitsubishi juga sudah memasarkan mobil listrik mini bernama I-Mev khusus untuk pasar Jepang.
Walau begitu, Artanto mengakui perlu waktu bagi mobil listrik untuk diakui di Indonesia. “Infrastruktur pendukung merupakan faktor utama. Di negara kita masih sangat sedikit stasiun pengisian bahan bakar untuk mobil listrik,” tutur Artanto. Menurut pria lulusan Teknik Mesin UGM ini, peran pemerintah juga sangat berpengaruh. Ia memberi contoh pada konsep mobil hybrid (menggunakan mesin konvensional dengan bentuan motor listrik). Ia heran kepada pemerintah yang memberi pajak mahal kepada mobil jenis ini. “Dengan teknologi hybrid, efisiensi bahan bakar jauh lebih baik karena ada motor listrik yang bisa menggantikan peran mesin jika dibutuhkan. Dengan begitu, lebih ramah lingkungan bukan?” ujarnya. Dengan pajak yang lebih tinggi, mobil hybrid kurang diminati masyarakat Indonesia karena harga jual yang ikut melambung tinggi. 

Tesla model S, mobil listrik buatan Amerika Serikat yang awal bulan ini dipamerkan di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2017. Sumber:http://media.suara.com/pictures/653×366/2017/04/29/98441-tesla-model-s-p100d.jpg

Jika berbicara mobil hemat energi, Indonesia juga sudah mampu berbicara di tingkat internasional melalui karya anak-anak muda. Tim SEMAR UGM, yang dibentuk pada 2009, telah membuktikannya. Tim yang berfokus pada pembuatan mobil hemat energi itu berhasil meraih berbagai prestasi membanggakan, baik tingkat nasional maupun internasional, antara lain juara tiga pada kejuaraan ‘Shell Eco Marathon’ untuk kategori “Best Technical Team” yang digelar di Belanda pada 2011. Antonius Adhika Angkasa, ketua tim SEMAR yang turut menjadi pembicara pada seminar yang digelar di Ruang Droost Kampus III USD banyak menceritakan mobil-mobil buatan timnya.

Sejak dibentuk, tim SEMAR berhasil membuat tiga mobil dengan masing-masing mobil rata-rata sudah menginjak usia generasi kelima. Mereka memberi nama ketiga mobil itu Prototype Electric, Urban Diesel, dan Urban Gasoline. Mobil-mobil itu berukuran kecil, hanya bisa dikendarai satu orang. Bobotnyapun tak melebihi 50 kg. Namun, itulah prinsip utama tim SEMAR dalam membuat mobil. “Bagi kami, mobil harus seringan mungkin untuk efisiensi bahan bakar,” jelas Adhika. Maka tak heran dengan ringannya bobot, mobil-mobil buatan tim SEMAR mampu memperoleh konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) 1 liter bensin untuk jarak tempuh 250 kilometer dan 249 kilomter per KwH untuk yang menggunakan tenaga listrik (electric). Sedang untuk yang bermesin diesel mampu menempuh jarak 272 kilometer hanya dengan mengisi 1 liter solar. Ringannya beban mobil buatan tim SEMAR juga dipengaruhi oleh bodi mobil yang memakai bahan karbon fiber, seperti yang dipakai di mobil-mobil mewah, seperti BMW seri 740Li dan Mercedes Benz S400.
Penulis: Dionisius Sandytama Oktavian
Editor: Konsita Bela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *