Siapa Sebenarnya Moses Gatutkaca?

Bagi kawan-kawan mahasiswa Universitas Sanata Dharma, terlebih yang kuliah di kampus Mrican pasti mengenal nama ini. Ya betul, nama ini merupakan nama sebuah jalan yang membentang dari Kampus Pusat USD hingga Hotel Plaza Yogyakarta. Di jalan ini kita bisa melihat banyak tempat persewaan film, rumah makan, dan counter telepon seluler. Namun, 14 tahun yang lalu keadaan di daerah Gejayan, Kolombo dan sekitarnya termasuk di jalan yang saat ini dikenal sebagai Jalan Moses Gatutkaca, sangalah berbeda. Di daerah inilah, tepatnya dari tanggal 5 sampai 8 Mei 1998, terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan aparat keamanan yang memakan banyak korban terluka dan satu korban jiwa, yaitu Moses Gatutkaca.

Bentrok ini terjadi tanggal 5 Mei 1998 saat ribuan mahasiswa dari berbagai universitas seperti USD, IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), IAIN (sekarang UIN Sunan Kalijaga), Universitas Gajah Mada, Universitas Janabrada, Universitas Muhammadiah Yogyakarta dan sejumlah universitas lain yang menggelar aksi di kampus USD menolak pulang dan memilih bertahan di jalan Gejayan sejak jam 11.00 siang, meski panitia telah menyatakan aksi selesai jam 17.30. Akhirnya pukul 18.00 aparat mulai membubarkan paksa mahasiswa yang masih bertahan dengan menyemprotkan air dan gas air mata. Peserta yang panik mulai berhamburan ke berbagai arah dan dikejar oleh aparat. Semakin malam, keadaan di Gejayan semakin mencekam. Mereka yang dicurigai sebagai mahasiswa langsung dipukul dan digiring ke kantor polisi. Menjelang malam, ketegangan mulai mereda dan penduduk mulai membakar ban serta meletakkan fasilitas umum ke tengah jalan, seperti box telepon, rambu lalu lintas, kotak pos dan tiang listrik.

Tiga hari kemudian, tanggal 8 Mei 1998 terjadi lagi bentrokan antara mahasiswa dengan aparat. Kali ini bentrokan menghasilkan korban jiwa. Di jalan Kolombo, Moses ditemukan sekarat oleh beberapa mahasiswa dari tim P3K Universitas Sanata Dharma, sesaat setelah aparat melakukan pembersihan di daerah bentrokan sekitar hotel Radisson Yogyakarta. Moses ditemukan tergeletak di jalan dengan kondisi tangannya patah menelikung ke belakang, dan kepalanya mengalami luka parah. Dari telinga dan hidungnya darah segar terus mengalir. Dengan menggunakan ambulans, ia dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih sekitar pukul 21.55 WIB. Dalam perjalanan ke rumah sakit ia menghembuskan nafas terakhir. Visum korban dari RS Panti Rapih menyatakan korban mengalami pendarahan telinga dan mulut dan diduga mengalami retak dalam tulang dasar tengkorak. Dari dompetnya diketemukan identitas KTP dan SIM C atas nama Moses Gatutkaca. Pemuda kelahiran Banjarmasin ini diketahui tinggal di Gang Brojolamatan No 9A Mrican Yogyakarta. Tempat ini juga tak jauh dari kampus Sanata Dharma dan sama-sama berada di wilayah Jalan Gejayan.

Menurut kawan-kawannya, alumnus Akademi Perindustrian (AKPRIND) Yogyakarta ini sebenarnya tidak ikut berunjuk rasa. Dirinya bersama kawan-kawannya sebenarnya keluar di malam hari untuk mencari nasi di warung sekitar Mrican . Namun, malang pun menjemput. Karena dianggap sebagai peserta aksi, dirinya dianiaya oleh orang tak dikenal dan dibiarkan terkapar di jalan. Dari peristiwa inilah pada tanggal 20 Mei 1998, massa dari berbagai golongan mulai dari mahasiswa sampai budayawan, termasuk tokoh Y. B. Mangunwijaya datang menggelar panggung rakyat disertai perubahan nama jalan. Jalan Kolombo yang berada tepat di sebelah kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta diubah namanya menjadi Jalan Moses Gatutkaca. (Rechardus Deaz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *