Cahaya di Kala Senja

oleh: Teresia Dian Triutami *)

Aku masih memandangi tubuh mungil itu. Dia terlelap dalam tidurnya yang terlihat begitu damai. Berulang kali aku menggenggam tangannya yang lembut, berharap sebuah keajaiban akan membangunkannya kembali, membuatnya kembali tertawa, menangis dan berlari kemanapun yang ia mau. Namanya Cahaya. Cahaya adalah penerang bagi keluarga kami. Kehadirannya mampu mengubah hidup orangtuaku yang selalu sibuk dengan dunia mereka. Dia menghadirkan cerita yang berbeda setiap harinya. Senyumnya yang manis mampu mengalihkan dunia. 
Namaku Anya, seorang gadis biasa dengan tubuh tinggi dan kurus, usiaku baru 18 tahun dan adikku Cahaya berusia 3 tahun. Tidak ada yang istimewa dalam keluarga kecil kami, kecuali kedua orangtuaku yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaan yang selalu menyita waktu mereka. Sebelum Cahaya hadir aku selalu merasa kesepian. Berada dirumah besar sendirian sepanjang hari membuatku benar-benar jenuh. Sampai akhirnya Cahaya hadir mewarnai harihariku.
Siang itu, aku pulang sekolah seperti biasa. Aku masih belum merasakan ada sesuatu yang akan terjadi, sampai akhirnya aku menemukan mama tengah duduk di ayunan yang terletak di taman belakang. Mama tersenyum kepadaku, dia menatapku penuh arti. Dengan ragu aku menghampirinya. Ini tidak seperti biasanya; benakku. 
“Baru pulang?” Tanya mama padaku 
“Ya!” jawabku singkat 
“Kok ketus gitu sama mama?” 
“Ngerasa aneh aja, tumben mama udah pulang jam segini?” 
Aku memandangnya, senyum merekah di bibirnya yang merah. Sesuatu yang hampir tidak pernah aku lihat. “Kalau kamu punya adik gimana?” mama kembali menatapku penuh arti, matanya mengisyaratkan kebahagiaan yang mendalam 
“Mama hamil? Berari aku mau punya adik ma? Bener ma?” Aku begitu bahagia, ini pertama kalinya aku benar-benar merasa bahagia. Ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan ketika aku dinobatkan sebagai pemain basket putri terbaik di sekolahku. 
Hari-hariku seolah berubah, kini aku merasa begitu bersemangat menjalani hidupku. Setiap hari selalu ada cerita menarik yang terjadi. Semua seolah perlahan menjadi membaik. Aku tidak sabar menunggu kehadirannya di dunia ini. 
Akhirnya sembilan bulan berlalu, mama di bawa ke rumah sakit. Aku dan papa menunggu dengan gelisah. Hampir lima jam berlalu masih belum ada tanda-tanda mama sudah melahirkan. Berulang kali papa memintaku pulang diantar pak Maman sopir pribadi papa, tapi aku bersikeras tetap tinggal dirumah sakit. Bagiku kejadiaan ini tidak akan pernah terulang. 
Semakin lama aku semakin gelisah, berulang kali aku berdoa agar semuanya baik-baik saja dan berulang kalipula aku mondar-mandir di depan ruang persalinan. Dia terlelap dalam tidurnya yang terlihat begitu damai. Berulang kali aku menggenggam tangannya yang lembut, berharap sebuah keajaiban akan membangunkannya kembali, membuatnya kembali tertawa, menangis dan berlari kemanapun yang ia mau.
Sampai akhirnya seorang perawat berbaju putih keluar dari ruang persalinan. Wajahnya terlihat lelah, tapi dia masih memberikan senyumnya kepada kami. 
“Selamat Pak! Anaknya lahir dengan selamat, seorang bayi perempuan” Perawat itu kembali tersenyum. Dia mempersilahkan kami masuk. 
Betapa mengagumkannya karya Tuhan ini. Aku menatap bayi mungil itu, rasanya seperti memandang malaikat kecil yang dikirim Tuhan untuk kami. Dia begitu menabjubkan. 
Setahun berlalu, Cahaya tumbuh dengan cepat. Semakin hari wajah Cahaya semakin menggemaskan. Semua seolah berubah semenjak kehadiran Cahaya ditengah-tengah kami. Kedua orangtuaku semakin jarang pulang malam. Kami jadi punya banyak waktu bersama. Ini sungguh luar biasa bagiku. Senyum Cahaya selalu bisa jadi obat bagi semua masalah yang menderaku. Dia sperti sepercik cahaya di kala Senja. Matanya selalu memancarkan harapan yang nyata. 

Terbungkam Awan Gelap 

Usia Cahaya menginjak 3 tahun sore ini, tepatnya tanggal 15 April. Semua telah ku persiapkan dengan matang. Ada beberapa kado yang aku beli di toko boneka dekat rumah. Dengan langkah bersemangat aku beranjak menuju rumah. Rasanya hari ini begitu istimewa. 
Aku membuka pintu rumahku, susana nampak sangat sepi. Tidak ada seorangpun di rumah. Kemana semua orang? Benakku. Aku mencoba menghubungi papa, tapi percuma tak ada tanggapan. Jantungku berdenyut lebih cepat. Keringat dingin mengucur deras dibahuku. Apa yang terjadi? Aku mencoba menenangkan pikiranku. Mungkin mereka tengah mencari kado yang tepat bagi Cahaya. 
Tiba-tiba telpon rumah berdering, membuatku semakin takut 
“Hallo,” ucapku gemetar. 
“Kamu di rumah? Nanti Pak Maman jemput kamu!” Itu suara papa. 
Tanpa sempat aku menjawab telpon sudah di tutup. Apa ini? 
“Pak, kenapa ke sini? Siapa yang sakit?” Aku bertanya dengan polos 
“Gak ada Non” jawabnya tanpa menatap ke arahku 
“Pak!” aku berhenti melangkah, berharap agar Pak Maman menatapku dan menjelaskan semuanya kepadaku. 
“Ayo Non jalan saja!” Pak Maman justru meninggalkanku, suaranya terkesan sangat berat. Ada apa pak?
Tepat di depan ruang UGD (Unit Gawat Darurat), kedua orang tuaku berdiri dengan gelisah. Mama sontak memelukku dengan erat. Matanya sembab seperti habis menangis. Raut wajah papa begitu tegang. Semua seolah terasa sangat dingin, kenyataan yang bahkan takk pernah aku bayangankan sebelumnya kini terjadi tepat di depan mataku. Mereka bilang Cahaya menangis semenjak pagi tadi. Aku pikir semuanya baik-baik saja. Sampai mama bilang Cahaya kehilangan keseimbangannya pagi ini. 
Aku masih menatap Cahaya. Sudah sebulan Cahaya menjadi penghuni tetap ruang khusus kanker anak di rumah sakit ini. Semenjak dokter bilang Cahaya menderita Leukimia akut, semua seolah berubah. Tak ada lagi senyum manis yang menghiasi bibirnya. Setiap hari aku harus melihat Cahaya menangis kesakitan. Bahkan aku harus menunggunya menjalani Kemoterapi setiap minggu. 
Terkadang aku ingin sekali menggantikan posisinya. Dia masih terlalu muda untuk ini. Masih banyak hal yang belum ia lakukan. Dia belum menceritakan kepadaku siapa laki-laki yang dicintainya nanti, dia belum bertengkar hebat denganku dan kami belum pergi jalan-jalan berdua di malam minggu. 
Semakin hari tubuhnya semakin kurus, rambutnya mulai rontok akibat kemoterapi yang harus dijalaninya. Terkadang aku merasa ini semua benar-benar tidak adil. Sebenci itukah Tuhan padaku?Beginikah caranya menyakitiku? Membuatku merasa benar-benar bahagia kemudian menjatuhkanku kedalam kepedihan yang perlahan menggerogoti hatiku? Tuhan izinkan dia kembali bersamaku, jangan ambil dia Tuhan. 
Tak terasa air mataku perlahan mulai membasahi pipiku. Aku tak sanggup menahannya lagi. aku tak sanggup jika suatu hari nanti Cahaya mengiggalkanku. Aku tak bisa membayangkan jika aku harus sendiri lagi seperti dulu. 
Perlahan sebuah langkah kaki mendekatiku. Memeluk bahuku dengan hangat. Aku tahu ini pasti tangan mama. Aku membalikan tanganku memandangnya dengan senyuman. Dia masih terlihat lelah. Aku tahu hatinya tak setegar apa yang terlihat. Dia mengajakku berbicara, sesekali dia memandang Cahaya penuh iba. Dia selalu mengatakan aku dan Cahaya adalah anugrah terindah yang pernah Tuhan titipkan untuknya. Walau terkadang dia justru mengabaikan keberadaan kami dan sibuk dengan urusannya sendiri, tapi semua itu dia lakukan agar kami bisa hidup dengan nyaman. Agar dia bisa memenuhi semua kebutuhan kami. 
Aku menatap wanita di hadapanku lekat. Wanita yang telah melahirkan aku dan Cahaya. Wanita yang terkadang membuatku merasa tidak diperhatikan, ternyata sangat memperdulikan kami. Ini membuatku sadar bahwa selama ini semua yang ia lakukan adalah untuk anaknya. Bertapa egoisnya aku selalu ingin diperhatikan, selalu ingin agar dia bisa ada disampingku. Aku memeluknya dengan hangat. Membelai rambutnya yang terurai panjang. 
“Makasih ya Ma” ucapku dalam hati. 

Satu tahun kemudian ….. 

Aku berdiri di depan sebuah makam mungil di hadapanku. Di dalamnya terbaring malaikat kecil yang sempat tuhan titipkan kepadaku. Tepat 5 bulan yang lalu Cahaya memilih kembali ke pangkuan Tuhan. Dia sudah berusaha tapi sepertinya Tuhan sangat merindukan dia. Sehingga dia harus kembali ke Surga. Semenjak kepergian Cahaya, aku mulai bisa menerima kesendirianku. Aku mulai menata hidupku kearah yang lebih baik. Aku ingin membuka lembaran baru dalam hidupkui, seperti senja yang yang kan menyambut malam; indah dan penuh kedamaian. Kini, Walaupun Cahaya tak lagi disampingku, tapi Cahayanya akan selalu bersinar di lubuk hatiku. 

* ) Mahasiswa Prodi PBI 2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *