Pola Identifikasi Remaja

Oleh: Marsianus Bathara

Suatu kali penulis menyaksikan acara reality show yang berjudul Mimpi Kali Ye yang ditayangkan oleh salah satu stasiun tv terkenal di Indonesia. Acara tersebut berisi tentang orang-orang yang sangat mengidolakan sakah satu tokoh entertainment yang ada di Indonesia dan pada akhirnya mereka dapat dipertemukan dengan tokoh idolanya tersebut setelah berhasil menjadi peserta acara itu. Pesertanya kebanyakan berasal dari kalangan remaja.
Saat penulis menyaksikan acara tersebut, kebetulan tokoh yang diidolakan adalah Ike Nurjanah, seorang penyanyi dangdut yang cukup terkenal di kalangan masyarakat. Dari ratusan surat yang dikirim oleh penggemarnya, produser hanya menjaring dua penggemar yang akan dipertemukan dengan tokoh idolanya tersebut. Tapi sebelumnya, presenter acara mendatangi rumahnya untuk berkenalan dan sekedar bertanya-tanya tentang kedekatannya dengan tokoh idolanya.

Penulis cukup heran saat melihat penggemar itu. Ia memiliki gaun, tatanan rambut, dan penampilan yang sangat mirip Ike. Koleksi-koleksinya juga cukup lengkap. Gaya dan goyangannya (karena saat itu memang disuruh bergaa) juga mirip sekali dengan Ike Nurjanah. Tapi dari segi muka memang berbeda.
Masayu S. Hanim, peneliti bidang komunikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah mengadakan penelitian di Makasar dan Bandung tentang dampak dari televisi. Beliau memberi kesimpulan bahwa remaja memiliki kecenderungan mengikuti gaya dandan di televisi, termasuk mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Ini dapat dilihat antara lain dari cara berpakaian, seperti baju yang terbuka di dada dan pusar yang kelihatan. Selain itu, para remaja (khususnya di daerah penelitian) juga banyak yang meniru gaya-gaya tokoh idolanya. Ibaratnya apa yang hari ini muncul lewat sinetron di layar kaca, keesokan harinya sudah dicari orang di fashion outlet atau distro yang sekarang menjamur di berbagai daerah. Ada tiga tipe, golongan pertama adalah pemirsa yang langsung menolak tontonan yang dirasakan tak sesuai dengan dirinya. Golongan kedua adalah mereka yang memilih berkompromi. Sementara mereka yang masuk golongan ketiga adalah mereka yang patuh mengikuti apa yang dilihat di televisi. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah sebagian besar remaja (saya tidak mau bilang semua karena dengan begitu telah melakukan generalisasi) masuk dalam kelompok kedua atau ketiga. 
Ternyata pengaruh tokoh yang tampil dilayar kaca bagi perkembangan remaja lumayan besar. Apalagi kita dapat dengan mudahnya mendapatkan alat elektronik tersebut. Dapat dikatakan bahwa tokoh-tokoh entertainment tersebut dapat menjadikan banyak remaja Indonesia menjadi remaja kaca (remaja yang mengikuti gaya hidup lingkungan sekitarnya, ini menjadikannya sulit menemukan identitasnya sendiri).
Mau fenomena lain? Saat konser-konser band, saya ambil contoh saat konser Nidji, banyak banget yang menggunakan style yang ditawarkan (secara halus) oleh personil Nidji, terutama Giring, sang vokalis. 
Ternyata kita memang telah memasuki sebuah dunia yang mulai diselimuti oleh apa yang disebut oleh MC. Cutheon sebagai ilusi parasional. Parasional adalah fenomena tentang ilusi adanya hubungan atau keterikatan antara pemirsa televisi dan pemain film. Hubungan parasional terjadi ketika seseorang mengenal atau mengerti banyak hal tentang orang lain. Nah, otomatis, menurut teori belajar sosial dari psikolog Amerika, Bandura dan Walter Mischel dengan mengamati dan mengetahui banyak tentang tokoh itu, kita secara kognitif akan merepresentasikan tingkah laku orang itu dan kemudian mulai mengambil tingkah laku tersebut. Nah, dalam pengaruh ilusi parasional yang semakin mendalam, korban (maksudnya penikmat televisi) merasa bahwa dirinya masuk televisi dan diperhatikan banyak orang. Inilah yang lalu disebut oleh David Elkind dalam bukunya Human Development dinamai sebagai imaginary audience. David Elkind menjelaskan bahwa istilah itu dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena psikologi yang muncul dalam diri seseorang yang merasa dirinya menjadi pusat perhatian. Imaginary Audience sendiri memunyai arti sebuah panggung entertainment semu yang mengecoh orang yang mengidap kecenderungan itu sekaligus juga mengecoh emosi dan konsentrasi orang tersebut hanya pada urusan agar bisa tampil sebaik mungkin di hadapan “publik semu” yang memperhatikan. Itulah yang sebenarnya disebut pola baru narsisme. Efeknya adalah selalu mengharapkan perhatian dan perlakuan khusus dari orang lain dan mereka biasanya sukar membagi dan mencurahkan kasih sayangnya kepada orang lain. Pendek kata, minus dalam berempati dan plus dalam egoisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *