Sisi Luar Pertandingan Sepakbola

Suasana Stadion Maguwoharjo, Sleman, sebelum pertandingan Indonesia kontra Puerto Riko, Selasa (13/6). Foto: Dionisius S. O.

       Membelah kerumunan orang yang hendak memasuki Stadion Maguwoharjo, Sleman untuk menyaksikan pertandingan Indonesia melawan Puerto Rico pada Selasa, (13/06) lalu, Gunawan menawarkan tiket pertandingan kepada setiap orang yang berada di dekatnya. “Tribun hijau masih lima, tribun merah masih lima,” ujarnya lantang. Harga tiket yang ditawarkan pria 57 tahun itu tak terpaut jauh dengan harga asli. Untuk tribun hijau ia menjual seharga Rp 40.000,- per lembar dari harga asli Rp 30.000,- sedangkan tribun merah dijualnya Rp 45.000,- dari harga asli Rp 35.000,-. 
        Dengan harga lebih terjangkau dari yang ditawarkan calo lain, tiket Gunawan langsung terjual kurang dari 20 menit. Malam itu Gunawan mengantungi keuntungan bersih Rp 100.000,-. “Lumayan mas, cukup membuat dapur tetap ngebul,” ujar pria yang tidak memiliki pekerjaan tetap ini. Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan mendorongnya menjadi calo tiket saban ada pertandingan sepakbola di Maguwoharjo dan Stadion Sultan Agung, Bantul. “Pekerjaan apa pun selama masih kuat menjalani, akan saya lakukan,” tegas Gunawan.
       Karena antrean masuk masih panjang, saya beserta empat saudara memutuskan menunggu di pelataran stadion sembari menengguk es teh yang dijajakan Suwarni. Dengan menggunakan dua kotak plastik, beragam jajanan ditawarkannya, mulai dari tahu bakso, arem-arem, hingga aneka minuman. Dagangan itu ia buat sendiri di rumahnya yang hanya berjarak 300 meter dari stadion. “Saya memang tidak suka sepakbola, tetapi di rumah pasti ada susunan jadwal pertandingan di Maguwoharjo untuk panduan kapan saya harus berjualan,” ujarnya sembari tertawa. 
          Dalam sekali berjualan, Suwarni mengaku mendapat untung bersih sekitar Rp 250.000,- hingga Rp 300.000,-. Berdagang di stadion hanyalah pekerjaan sambilan ibu yang berusia setengah abad ini di samping pekerjaan tetapnya menjadi karyawati sebuah jasa cuci pakaian. Hasil kerja kerasnya membanting tulang sudah membuahkan hasil. “Saya sudah berjualan semenjak stadion Maguwoharjo ini diresmikan tahun 2007. Alhamdullilah cukup membantu membiayai kuliah anak saya hingga lulus sarjana pada tahun lalu,” kisahnya. 
       Setelah antrean masuk sudah agak lengang, kami berlima berpamitan kepada Suwarni. Memasuki tribun stadion, terdengar FIFA Anthem berkumandang yang berarti pertandingan akan segera dimulai. Para penonton meneriakkan yel-yel penyemangat untuk Tim Garuda. Karena pertandingan digelar di markas PSS Sleman, lagu-lagu seperti Ku Yakin Kau Bisa, Terus Berlari, dan Ola Ale Ale milik Brigata Curva Sud (BCS) pendukung PSS, dinyanyikan hampir sepanjang pertandingan dengan pengubahan lirik ‘PSS’ menjadi ‘Indonesia.’ 
        Karena lelah bernyanyi, rasa haus menjadi hal tidak terelakkan. Untung saja tiba-tiba muncul Suwito dengan membawa kotak plastik putih berisi aneka minuman dingin. Sontak saja dagangannya langsung habis hanya dalam kurun waktu 15 menit. Senyum kecil terbersit di bibir kakek 72 tahun ini. Sebetulnya sesudah itu ia akan mengambil aneka makanan ringan untuk kembali dijajakan. Namun, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak. “Istirahat dulu, usia memang tidak bisa bohong,” ujarnya terkekeh.
     Berbeda dengan Suwarni yang berjualan secara mandiri, Suwito berjualan untuk koperasi pedagang Stadion Maguwoharjo. Setiap pertandingan, ada sekitar 50 orang yang bertugas menjajakan aneka jajanan. Keuntungan yang diperoleh pedagang dari koperasi adalah dapat masuk ke tribun penonton, sesuatu yang tak bisa dilakukan Suwarni. Hasil penjualan dagangan setiap pertandingan disetorkan ke pengelola koperasi. “Lumayan mas, sekali bertugas sudah ada bayaran tetap dan bonus,” ujarnya tanpa mau menyebut besaran yang diperolehnya. Sama seperti Suwarni, ia sudah berjualan dari pertama kali stadion berkapasitas 40.000 penonton itu diresmikan. Sesudah beristirahat 20 menit, pria yang semasa muda berprofesi sebagai sopir truk ini melanjutkan pekerjaannya. 
        Tidak terasa pertandingan yang berlangsung 2×45 menit berakhir pukul 23.30 WIB. Walaupun kedua kesebelasan saling melancarkan serangan, skor kacamata tak berubah hingga peluit akhir. Para penonton keluar stadion dengan tertib. Namun, untuk keluar dari areal stadion cukup sulit karena banyaknya mobil dan motor. Untung saja kami memarkirkan mobil di luar areal stadion sehingga tidak terjebak kepadatan. Lahan parkir yang kami gunakan dikelola Arif Budiman, warga sekitar stadion. 
      Sudah lima tahun terakhir ia menyewa lahan untuk dijadikan kantung parkir setiap ada pertandingan sepakbola. Untuk mobil, ia mematok tarif Rp 5.000,- dan motor Rp 3.000,-. “Memang sedikit lebih mahal dibanding di dalam stadion, tetapi keuntungannya jika parkir di sini bisa lebih cepat keluar karena tidak semrawut,” tuturnya. Ia mengaku bisa mendapat Rp 500.000,- sekali membuka kantung parkir. “Saya juga mengajak tiga teman, dibagi lah hasilnya,” cerita pria yang juga berprofesi sebagai petugas keamanan di salah satu bank swasta ini.
Memberi Keuntungan
Kisah di luar lapangan hijau selalu saja muncul setiap bergulirnya pertandingan sepakbola. Ada yang berpengaruh langsung kepada tim yang bertanding ataupun tidak sama sekali. Pertandingan sepakbola tidak selalu tentang formasi yang dipakai sebuah tim atau keputusan wasit yang terkadang kontroversial, tetapi juga faktor-faktor pendukung bergulirnya pertandingan. Semuanya saling berkaitan secara langsung ataupun tidak dan terjadi simbiosis mutualisme di dalamnya. 
Kisah Gunawan, Suwarni, Suwito, dan Arif Budiman menggambarkan bagaimana simbiosis mutualisme itu terjadi. Mereka memang tidak terlibat langsung dalam bergulirnya pertandingan, tetapi kontribusi mereka dirasakan langsung para penonton. Sepakbola dapat menjadi lahan bagi mereka untuk turut mengais rezeki di tengah gegap gempita keriuhan pertandingan.
Penulis dan Reporter: Dionisius Sandytama Oktavian

           

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *