Ketika Hujan Bercerita Diantara Kita

salah satu adegan pementasan teater. Foto :Tiwi Wira P.

      

    Senja sudah tidak menampakkan dirinya lagi, hanyalah terang dari cahaya sinar bulan yang menemani perjalanan saya dan kedua teman saya, Bela dan Benfa pada bulan Mei yang lalu. Awalnya kami janjian untuk bertemu di rumah natas untuk bermalam minggu di kampus ISI tepatnya di gedung teater untuk menonton suatu pertunjukan. Kami berangkat ke sana menggunakan mapsuntuk mengetahui jalan ke kampus ISI.
Sesampainya di sana, kami masih menunggu sekitar 15 menit sebelum acara dimulai. Pukul 19.45 kami memasuki gedung teater dan membiarkan tangan kami distempel. Saya mulai mencari tempat duduk yang nyaman. Tak lama, teater pun dimulai. Semua cahaya dalam gedung dimatikan. Hanya gelap dan sunyi yang saya rasa.
Kisah Kasih Dalam Drama
Ini kisah tentang hujan dan cinta yang sering kita bicarakan. Hujan yang selalu membawa banyak kesan pada lubuk rasa masing-masing dan cinta yang tak pernah tahu wujud nyatanya dalam hidup kita. Namun, dibalik berjuta tafsir hujan dan cinta, selalu ada kisah yang disiratkan pada tiap manusia.
Hujan kali ini membawa kisah antara Surya dan Rintik, antara dua hal yang mungkin tak pernah bertemu tetapi akhirnya dipertemukan dalam satu ruang. Dalam derai-derai airnya, hujan mengajak untuk membuka hati dan pikiran, melihat bahwa dunia begitu luas dengan rupa peristiwanya. Bahkan hujan mengajak berdialog cinta untuk menghadirkan wujudnya dalam tubuh hujan. Hingga pada akhirnya, cinta tak perlu idealise  tinggi untuk menggapainya, cukup dengan membuka jendela rasa dan logikamu, maka cinta ada di sekitarmu. Sesederhana itu.
Lampu yang tadinya mati tiba-tiba menyala dari belakang, sontak saya menoleh dan melihat ada aktris yang berjalan dari belakang membawa payung. Aktris tersebut kemudian pergi ke belakang panggung. Ketika saya menoleh lagi, ada aktor yang merentangkan jaketnya di atas kepalanya seperti sedang melindungi diri dari hujan. Mata saya terus melihat aktor tersebut sampai saya tidak menyadari bahwa tirai di panggung tersebut sudah mulai terbuka. Taka lama kemudian, llampu panggung sedikit demi sedikit mulai menampakkan cahayanya. Nampak latar sebuah cafe yang bisa dikatakan cafe masa kini  karena nuansanya yang modern. Temboknya dihias dengan berbagai macam ornament dari sarang burung. Dari luar café terlihat hujan sedang turun. Drama pun dimulai dengan seorang wanita yang  membersihkan cafe.

Hujan yang Tak Dinanti
sambutan dari para pemain teater seusai pementasan

Rintik selalu tampak murung dan terkesan jutek ketika hujan turun namun selalu tersenyum dan menjadi pribadi yang hangat ketika mentari bersinar. Surya mencintai Rintik dalam diam, selalu memberikannya puisi melalui pelayan café. Setelah sekian lama, Surya memberanikan diri berbincang-bincang dengan Rintik. Hingga pada akhirnya Rintik menceritakan tentang dirinya sampai mengeluarkan air mata. Pengunjung café yang melihat itu mengira Surya dan Rintik sedang bertengkar lalu menegur. Namun yang terjadi ialah keributan karena kesalahpahaman pengunjung café pada Rintik. Tak tahan, Rintik menangis dan berteriak pada pengunjung café.

Surya berusaha menenangkan Rintik sambil memeluk dengan lembut, menjelaskan yang terjadi kepada pengunjung café agar suasana café menjadi tenang. Setelah semua tenang, ia harus pergi. Di meja mereka (Surya dan Rintik) terdapat kertas yang berisi puisi yang tertinggal. Rintik membaca puisi itu lalu bergegas mencari puisi-puisi yang masih ia simpan dalam tas. Menyadari bahwa selama ini yang mengirimkan ia surat adalah Surya, orang yang selama ini ada di café bersamanya. Namun ketika Rintik mengejar Surya keluar café, ia terlambat. Surya sudah tidak ada di sekitar café.
Belakang Layar
Teater yang disutradarai oleh JB Judha Jiwanga tersebut dihadiri oleh puluhan penonton. Menurut salah seorang penonton yang tidak ingin diketahui namanya menyebutkan bahwa teater tersebut sangat menarik karena tidak dapat ditebak akhirnya. Para panitia teater sangat puas dengan pertunjukan yang sudah selesai. Bagi beberapa panitia, lokasi tempat menjadi kendala karena jarak yang jauh serta kesibukan kuliah menjadikan pembuatan properti acara benar-benar harus dilakukan saat waktu luang, misalkan properti untuk membuat hujan yang turun di luar café yang dibuat karena eksperimen dengan paralon dan dibantu juga dengan mahasiswa ISI yang harus dikerjakan cukup lama.
penulis   : Tiwi Wira P.
reporter : Tiwi Wira P., Benediktus Fatubun, & Konsita Belarosa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *