Kusamnya Sudut Potret Kemanusiaan di Indonesia

Grup Kepal SPI turut bersolidaritas menolak kadaluarsa kasus Udin
dok. natas

Spanduk yang dipasang di depan Gedung Agung Yogyakarta
dok. natas
Bara Siasat
dok. natas

Grup musik Kepal SPI menjadi penutup solidaritas menolak kadaluarsa kasus Udin
dok. natas
Sepeda-sepeda yang digunakan saat gowes Bike to Remember
dok. natas

“Ini bukan tentang siapa Udin. Ini tentang realita sekarang bahwa suara-suara kebenaran masih saja dibungkam” -Gonzales, Kepal SPI

Malam itu (15/8), nuansa peringatan kemerdekaan Republik Indonesia dari penjajahan bangsa asing sudah terlihat di depan Gedung Agung Yogyakarta. Bendera merah putih berjajar di pagar Gedung Agung. Kursi-kursi dan podium telah tertata. Kutebak, semua dipersiapkan untuk upacara 17-an lusa.

Tidak lebih dari 5 meter di depan Gedung Agung, situasi dan nuansa sudah berbeda. Tidak ada seremonial atau persiapan menjelang perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69. Yang ada ialah kompilasi seniman-seniman Yogyakarta dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta yang bersolidaritas atas perampasan hak untuk hidup yang dialami oleh Udin, seorang wartawan Surat Kabar Harian (SKH) Bernas yang dibunuh karena mengusik kekuasaan Bupati Bantul Sri Roso Sudarmo (1999).

Salah satu dari seniman-seniman yang turut bersolidaritas ialah grup Kepal SPI. Monolog yang dibawakan oleh Gonzales, vokalis Kepal SPI, sebelum mengawali lagu mereka sukses menghentakku dari kantuk dan lelah.  “Ini bukan tentang siapa Udin. Ini tentang realita sekarang bahwa suara-suara kebenaran masih saja dibungkam,” ujar Gonzales dengan lantang.

Mendengar monolog itu, aku langsung mengambil pena dan buku catatanku. Secara spontan kutulis: mungkin kemerdekaan belum sepenuhnya terwujud di Republik Indonesia.

Entah hal apa yang mendorongku menuliskan sepenggal kalimat tersebut. Barangkali mangkraknya berkas kasus Udin di meja Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang menjadi penyebabnya. Satu alasan yang pasti ialah pengusutan kasus terbunuhnya Udin sudah menginjak angka 18 tahun, dan akan kadaluarsa di Agustus 2014. 

****

Udin, sapaan dari Fuad Muhammad Syafruddin (32) dibunuh pada tanggal 16 Agustus 1996, tepat satu hari menjelang peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-51. Wartawan Surat Kabar Harian (SKH) Bernas ini dibunuh karena beritanya mengusik kekuasaan Bupati Bantul kala itu, Sri Roso Sudarmo.

Tidak hanya Bupati Bantul yang diusik oleh pemberitaan yang diturunkan oleh Udin. Kekuasaan Orde Baru dan militer pun dibuatnya gerah. Dalam situs berita merdeka.com, yang berjudul ‘Kisah Pembunuhan Wartawan Udin, 17 tahun masih gelap’; tercantum 5 judul artikel ‘menyengat’ yang ditulis oleh Udin. Artikel-artikel tersebut ialah ‘3 Kolonel Ramaikan Bursa Calon Bupati Bantul’, ‘Soal Pencalonan Bupati Bantul: banyak ‘Invisible Hand’ Pengaruhi Pencalonan, ‘Di Desa Karangtengah Imogiri, Dana IDT Hanya Diberikan Separo’, dan ‘Isak Tangis Warnai Pengosongan Parangtritis’.  

Tak disangka-sangka, artikel-artikel yang diturunkan oleh Udin meminta nyawa sebagai tumbalnya. Wartawan ini meninggal usai dianiaya oleh orang tak dikenal di sekitar rumahnya di Dusun Gelangan Samalo Jalan Parangtritis Km 13 Yogyakarta, dengan sebatang besi yang dipukulkan ke kepalanya.

Pada akhirnya, Bupati Sri Roso dihukum 9 bulan penjara pada 2 Juli 1999. Dia dinyatakan bersalah atas kasus suap Rp 1 miliar kepada Yayasan Dharmais, sebuah yayasan yang dikelola oleh Soeharto. Uang itu dijanjikannya sebagai imbalan bila diangkat kembali sebagai Bupati Bantul 1996-2001.[i]

****

Hingga malam ini (16/8), kasus pembunuhan Udin belum kunjung terungkap. Aku makin terusik dan semakin cepat menggoreskan penaku. ‘Apalah artinya Pancasila didengungkan tiap upacara, jika sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab diinjak-injak oleh oknum yang kebal hukum’, kira-kira begitu yang kutulis di buku batik biru.

Erda, bassis Ilalang Zaman, grup musik multigenre yang ikut bersolidaritas mencegah kadaluwarsanya kasus Udin juga menggaris bawahi isu kemanusiaan ini. “Kejadian Udin itu potret harga manusia di negara ini. Nyawa iki (ini-red) murah. Opo (apa-red) sih artinya seorang Udin di depan kekuasaan?,” papar Erda.

Wartawan Udin yang dibunuh karena berita mungkin hanya sudut dari potret kemanusiaan di Negara Indonesia. Selain Udin, masih cukup banyak tokoh-tokoh yang ‘dihilangkan’ secara paksa, seperti Munir, dan Wiji Thukul. Namun setidaknya, solidaritas Komunitas Sepeda Jogja, seniman-seniman Yogyakarta (Kepal SPI, Anti Tank, Ilalang Zaman, Sisir Tanah, dan Siasat), AJI Yogyakarta, LBH Pers Yogyakarta kuharap mampu mencegah sudut potret ini makin kusam.
Penulis:Ig. Mayo Aquino Pang
Reportase Bersama: Ira Lodang D.



[i]‘Kisah pembunuhan wartawan Udin, 17 tahun masih gelap. Merdeka.com. Tanggal akses: 16 Agustus 2014. Jam Akses : 19.30 WIB 

Baca Juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *