Selfie Bulu Ketek dan Iklan Deodoran: Identifikasi Menjadi Perempuan

Potret selfie perempuan Cina yang sempat heboh di media sosial yang diunggah di Weibo
Akhir-akhir ini, mucul trend selfie baru di kalangan anak muda di Cina. Beberapa perempuan muda di Cina yang berkulit kuning langsat, berambut hitam panjang, dan berhidung bangir khas San Chai Meteor Garden ber-selfie ria dengan pose unik. Mereka memakai tank top you can see, tersenyum tipis sambil mengumbar bulu ketiak. Tiada rasa jijik atau malu terpancar di wajah mereka. Justru mereka terlihat bangga berpose dengan bulu ketiaknya. Mereka bahkan ramai- ramai menggunggah foto unik itu ke jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan path. 
Ohya, satu lagi. Judul unggahan foto pamer bulu ketek itu sensasional- cetar- membahana: ‘Natural Beauty’. Wow.
Saya rasa, tak ada yang salah dengan foto perempuan- perempuan Cina itu. Mereka tetap cantik, ayu seratus persen. Yang sedikit mengganggu pemandangan adalah bulu ketek yang ikut nampang.  Ah ya. Bagi kita, kaum awam, yang mengasosiasikan kecantikan seorang perempuan sebagai sebuah kesempurnaan: kulit putih- lembut- tanpa bulu sehelaipun, foto ini jelas Menjijikkan. Tak tahu malu. Ekstrem. Gila. 
Tak heran banyak netizen Indonesia yang menghujat aksi pamer bulu ketek sekaligus kampanye ‘Natural Beauty’ ini. aneh. Berbagai komentar tak sedap menghujani artikel selfie bulu ketek di dunia maya yang diterbitkan oleh portal berita Indonesia. Di laman website http://chikastuff.wordpress.com/2014/08/10/trend-masa-kini-selfie-bulu-ketek/ misalnya, komentar seperti: kalau yang panjang-panjang itu agak gimana gitu ngeliatnya :D’ ‘jijik…. huahaha… sumpah jadi ilfil… (>.<;)’, ‘Kamu kan juga punya bulu ketek >__>’ . Intinya, netizen tersebut berpendapat bahwa perempuan tak perlu melakukan selfie bulu ketek demi merekonstruksi pola kecantikan sampai sejauh itu. Cuma bikin diri sendiri malu.
Sementara itu, saya ingat, beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2004, ada sebuah merk deodoran menggelar kontes unik di Indonesia. Merk deodoran itu menggelar kompetisi bagi pasangan kekasih  laki- laki dan perempuan. Jawaranya adalah laki- laki yang paling lama mencium ketiak pasangan perempuannya. Cukup banyak peserta yang berpartisipasi. Iklan kompetisi ini juga rajin menghiasi media cetak maupun layar kaca. 
Tentu ketiak sang perempuan harus memenuhi persyaratan utama: bersih putih mulus tanpa bulu sehelaipun dan..ditambah harus harum dengan pakai merk deodoran tersebut. Pada akhir kompetisi, laki-laki yang menjadi juara pertama menyebutkan bahwa ketiak pasangannya sangat wangi dan bersih sehingga ia tahan menciumnya sampai beberapa menit tanpa rasa risih. Sang perempuan yang berparas cantik tersipu dalam genggaman si laki-laki, lalu mengucapkan terima kasih pada produk deodoran yang meningkatkan kepercayaan diri plus kecantikannya plus harga dirinya di mata sang kekasih. 
Kompetisi itu berakhir bahagia dengan munculnya sang juara membintangi iklan produk deodoran tersebut. Dan makin bertambah pula kriteria citra seorang perempuan cantik di negeri ini. Ya perempuan cantik mesti berkulit halus mulus tanpa bulu ketiak sehingga ia bisa pede memamerkan lengan kurus dalam balutan tank top you can see my ketiak. 

Kompetisi cium ketiak salah satu merk deodoran


Syahdan, Sigmund Freud, seorang psikoanalis mashyur Perancis, meneorikan gejala psikologis bernama ‘penis envy’ yang menurutnya hanya diderita oleh kaum perempuan. Buat Freud, perempuan mengalami gangguan jiwa yang disebabkan perasaan iri berlebihan terhadap laki- laki yang mempunyai penis. Sebab seumur hidupnya perempuan tak pernah bisa punya penis, seumur hidup pula perempuan menderita gangguan jiwa neurotis menginginkan penis. 
Adapun Simonne de Beauvoir, pelopor gerakan persamaan gender asal Perancis menganggap premis ‘penis envy’ yang dikemukakan Freud amat seksis. Penis lalu diartikannya sebagai simbol otoritas laki-laki yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Dalam bukunya The Second Sex Part Two (1949), de Beauvoir menulis dengan tegas, ‘One is not born a woman, but becomes a woman.’ Di sini, de Beauvoir menekankan bahwa tak ada seorangpun perempuan yang terlahir sebagai perempuan. Sebaliknya, proses identifikasi diri menjadi perempuan adalah proses seumur hidup yang dilakukan perempuan itu sendiri. 
De Beauvoir tegas menolak penjelasan Freud bahwa semua perempuan terlahir secara biologis dengan gejala tertentu yang kemudian dapat diidentifikasi menjadi sejumlah kriteria feminin. Sebaliknya, kata de Beauvoir, kriteria feminin yang menjadi identitas seorang perempuan kebanyakan berasal dari konstruksi masyarakat. Contohnya, semenjak kecil, anak perempuan dikenalkan pada pita, rok, dan make-up sebagai identitas yang membedakan peran gender (gender role) mereka dengan anak laki- laki. 
Patut disadari, gender tak sama dengan seks. Seks memanglah jenis kelamin yang (mungkin) tak bisa diubah sebab ia bawaan biologis sejak lahir. Namun, peran gender bisa dan sangat mungkin direkonstruksi oleh perempuan itu sendiri. Maka, feminis adalah tahap ketika perempuan dapat menentukan sikap politik mereka, untuk mengidentifikasi peran gender mereka, menurut apa yang mereka anggap sesuai dengan diri masing-masing. Dan jangan lupa, proses identifikasi dan pilihan politis ini adalah proses yang disarikan dari pengalaman perempuan seumur hidup. Karenanya, tahap feminis tak pernah rigid; ia bisa berubah kapanpun.
Kalau kita lihat kembali, pendapat de Beauvoir masih relevan pada situasi sekarang. Citra kecantikan perempuan memang dikonstruksi oleh masyarakat, utamanya  dibentuk oleh media arus utama. Hampir sepanjang waktu, iklan di televisi, media cetak, maupun internet menampilkan sosok perempuan bersih, putih, dengan kulit mulus sebagai bintangnya. Perempuan dengan citra seperti itulah yang dianggap cantik dan bisa diterima masyarakat. 
Harus diakui, kita, masyarakat Indonesia, masih hidup dalam ruang patriarki, dalam mana perspektif laki- laki masih mendikte dikotomi peran dan citra gender di masyarakat. Kata kecantikan hampir pasti secara pragmatis diidentikkan dengan kemolekan fisik dan laku lembut seorang perempuan. Dalam pandangan laki-laki, perempuan yang putih, lembut, dan mulus akan memanjakan mata dan memuaskan hasrat kejantanan mereka. Lucunya, stigma kecantikan dari perspektif laki-laki yang demikianlah, yang justru berkembang dan diterima (kadang tanpa dipertanyakan) menjadi standardisasi mitos kecantikan seorang perempuan. 
Nah, jelaslah sudah bahwa laki-lakilah yang malah lebih dominan menentukan identifikasi kecantikan seorang perempuan. Gendhengnya, media arus utama yang berbasis profit oriented cenderung menyebarluaskan mitos perempuan cantik, bersih, putih, mulus, ini dalam segala aktivitas komersialnya. Tentu bisa ditebak siapa yang ‘bermain’ di balik layar. Ya, tentu saja, para cukong pemilik modal. 
Ketika media arus utama dan pemilik modal menyatukan kekuatan, citra perempuan cantik putih mulus tanpa bulu sehelaipun makin gencar dipropagandakan dan dieksplorasi (atau dieksploitasi?) habis-habisan. Coba lihat, produk kecantikan macam sabun mandi, sampo, kosmetik, pelembab kulit, dan obat pembebas bulu ketek; semuanya identik menyuguhkan perempuan cantik sebagai pemikat konsumen. Sasaran konsumennya: ABG yang sedang mencari jati diri dan berusaha tampil menawan selagi muda. Lewat iklan di media komersil, kapitalisme menambah panjang deret kriteria feminin seorang perempuan. Perempuan dilihat sebagai pangsa pasar yang harus selalu merawat dan meng-upgrade standar kecantikannya sesuai tren yang dibuat bisnis kapitalisme sendiri, sehingga ladang bisnis kecantikan selalu bisa memutar duit. Ironisnya, ruang perempuan untuk mengkonstruksi atau bahkan merekonstruksi mitos kecantikan, semakin terpinggirkan. Banyak perempuan muda justru termakan iklan, ingin tampil secantik mungkin meraih nilai sempurna standar kecantikan ala kapitalis: menjadi putih, bersih, mulus tanpa bulu sehelaipun.

 

Citra kecantikan seorang perempuan disimbolkan oleh ketiak yang mulus

Oke, mari kita kembali membahas konteks selfie bulu ketek pada perempuan di Cina seperti paparan saya di atas. 
Rasanya wajar sih, jika selfie bulu ketiak kemudian banyak ditentang oleh netizen Indonesia. Sebab tren selfie bulu ketek ini benar-benar mematahkan mitos kecantikan yang selama ini dipegang teguh oleh masyarakat kita. Bulu ketek memang dianggap tabu untuk dimiliki atau malahan ditampilkan oleh seorang perempuan cantik. Apalagi, selfie semacam ini dilakukan oleh perempuan Cina yang selama ini dianggap oleh perempuan Indonesia sebagai role model perempuan ayu dengan kulit putih, mata sayu, bibir tipis, dan tubuh langsing sebagai identifikasi kecantikan para putri Tiongkok ini. 
Nah, ketika perempuan di Cina sendiri kemudian ingin mendobrak mitos kecantikan dengan berada dalam tahap identifikasi diri untuk menjadi perempuan dengan standar diri yang berbeda, apakah hal tersebut bisa disalahkan bahkan malah dianggap sebagai simtom kesintingan seorang perempuan karena iri dengan laki-laki yang bisa bangga memiliki bulu ketiak, seperti teori ‘penis envy’ dari Freud? Dan.. apakah kegiatan selfie unik ala perempuan Cina bisa kita judge seenaknya cuma berdasarkan rasa risih personal kita saat melihat perempuan pamer bulu ketek (yang notabene rasa risih kita itu akibat kita terlalu terpengaruh kriteria kecantikan yang dikonstruksi masyarakat patriarki dalam mana kita tinggal)? 
Lalu, masihkah relevan hujatan netizen Indonesia terhadap selfie bulu ketek?
Barangkali, seperti kata de Beauvoir, sikap politik perempuan untuk merekonstruksi standar kecantikan feminin pada zaman ini telah semakin nyata. Barangkali para perempuan di Cina mulai mensyukuri anugerah ‘Natural Beauty’ berupa bulu ketiak dari Sang Pencipta yang pada dasarnya memang berfungsi untuk melindungi kulit ketiak dari sakit kelenjar keringat, misalnya. Barangkali pengalaman hidup mulai mengajarkan bahwa secantik dan semulus apapun ketiak seorang perempuan, selama apapun kekasih pria mereka mencium ketek mulus mereka, bila kekasih mereka ingin selingkuh, toh perempuan tetap bisa gigit jari ditinggal sang pria pujaan. 
Barangkali perempuan di Cina ingin mengajak perempuan-perempuan di belahan dunia lain untuk mulai menyadari; seberapapun seringnya mereka mencukur bulu ketiak dan memakai deodoran paling wangi, standar kecantikan sempurna yang didesain para pemodal dan dipropagandakan terus-menerus oleh media tak akan tercapai oleh duit yang mereka punya. Jadi, alih-alih membayar mahal perawatan salon untuk memuluskan bulu ketek ala Princess Syahrini, perempuan di Cina dengan antusias mengirim foto selfie bulu keteknya ke salah satu website untuk dinilai pose dengan bulu ketek mana yang terbaik guna memperebutkan sejumlah uang sebagai hadiah.  
Ah. Bukankah di masa demokrasi seperti sekarang, kesadaran perempuan untuk mengambil sikap politik dalam mengidentifikasi identitasnya sebagai individu adalah momen yang harus dirayakan bersama?
Penulis: Vania Williany
Hasil diskusi bersama Rosa Vania Setowati, Rafael Marion Galley M., dan Ignatius Mayo Aquino Pang.
Referensi: Barry, Peter. Beginning Theory, An Introduction to Literary and Cultural Theory. Manchester: Manchester University Press. 2002.

Sumber gambar: 
1. http://2.bp.blogspot.com/_tr7SeR9Jt9I/TE4BrQd0GBI/AAAAAAAABIw/OTJjJZpN5oE/s400/sanex.jpg
2. http://www.venusbuzz.com/wp-content/uploads/1320380785955.jpg


Baca Juga:
Kusamnya Sudut Potret Kemanusiaan di Indonesia


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *