Perlawanan di Era Milenium Bersama Soesilo Toer

                 Yogyakarta – Festival Sastra 2018 yang bertempat di aula Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (USD) menghadirkan Soesilo Toer sebagai pembicara dalam sarasehan yang bertema “Sastra sebagai bahasa perlawanan di era milenium”. Acara tersebut diadakan oleh mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra USD (02/12) sebagai kegiatan bersastra dan apresiasi sastra yang rutin dilakukan.

                 Soesilo Toer mengatakan generasi sekarang perlu mencari sendiri masalah apa yang harus dihadapi. “Apa yang perlu dilawan, apa yang harus dibangun, di era milenium harus dari para milenial sendiri yang mencari tahu, apa yang perlu dilawan atau tidak. Karena setiap generasi punya pola pikir masing-masing,” ucap Soesilo Toer.

Soesilo Toer bersama moderator saat membagikan kisahnya di depan peserta sarasehan yang bertempat di aula USD. Dok: natas

                 Menurut Ivo, selaku ketua panita Festival Sastra 2018, alasan mengangkat tema ini adalah karena yang disampaikan Soesilo Toer dapat menjawab permasalahan para generasi sekarang. “Melawan yang dimaksudkan dalam sarasehan ini adalah melawan berbagai macam hal yang instan hingga melupakan proses itu sendiri,” ujar Ivo, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2017 ini.

                Dalam sarasehan tersebut dibuka juga sesi tanya jawab bersama Soesilo Toer oleh moderator. Para peserta yang menghadiri acara sarasehan turut aktif menanyakan berbagai macam hal kepada Soesilo Toer, baik perihal kehidupannya sejak kecil bersama Pramoedya Ananta Toer, perihal kerja sastranya, maupun kehidupan sehari-harinya saat ini. Soesilo Toer juga bercerita sekaligus mengajak agar generasi muda banyak membaca buku agar menjadi generasi yang ceras dan mengetahui masalah yang dihadapi. “Anda kalau mau cerdas bacalah buku, surat kabar, majalah, dan media informasi internasional.”

Soesilo Toer saat berbincang dengan awak natas. Dok: natas

                Ivo berharap Festival Sastra 2018 ini dapat memberikan wawasan yang berbeda dan masukan bagi generasi milenial agar dapat lebih kreatif lagi serta dapat menerapkan ilmu yang didapatnya untuk bermasyarakat. “Bagaimana kita mengimplementasikan teori-teori yang didapat untuk dibagikan kepada masyarakat yang penting. Mungkin akan lebih baik apabila diperbanyak lagi acara-acara seperti ini,” ungkap Ivo.

Penulis dan reporter : Vincentius Dandy

Editor : Ni Luh Putu Rusdiyanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *