Delegasi USD Galang Wawasan Melalui Global Leadership Program

 Delegasi Global Leadership Program dari USD

Pada 4-8 Agustus 2014 lalu, lima mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD) berpartisipasi dalam Global Leadership Program (GLP) yang diadakan di Ateneo de Manila University, Filipina. Kelima mahasiswa tersebut adalah Naftalia Indah Lukartono (Sasing 2011), Margareta Andini Tri Pangastuti (Sasing 2010), Billy Joregia Tarigan (Akuntansi 2010), Liliana (Sasing 2010), Christiana Anindya Putri (PBI 2010), dan Engelbertha Maria Serviam Rahamitu (PBI 2011).
GLP merupakan program pelatihan kepemimpinan mahasiswa tingkat internasional yang diikuti oleh 5 Universitas Katolik Jesuit se-Asia Pasifik. Tema yang diangkat tahun ini adalah Social Entrepreneurship. Dalam acara itu, kelima mahasiswa USD berbagi pengetahuan bersama perwakilan mahasiswa dari Sogang University (Korea Selatan), Sophia University (Jepang), Ateneo de Manila (Filipina), dan Fu Jen Catholic University (Taiwan) terkait isu Social Entrepreneurship (kewirausahaan berbasis sosial-red) di negara masing- masing.
Dalam persiapannya, tim GLP USD mengikuti pelatihan dan pendampingan yang diberikan oleh Universitas guna merancang presentasi dan menampilkan cultural performance (penampilan budaya-red).Pendampingan tim GLP dikoordinasikan oleh beberapa dosen, yakni: Heny Herawati, Risang Baskara dan Maria Ananta.
“Jadi sebelum berangkat ke Manila, kami menyelesaikan tugas untuk presentasi country report (melaporkan perkembangan isu di negara masing-masing-red). Kami ngomongin social entepreneurship di Indonesia, apakah sudah bisa membangun keberlanjutan ekonomi masyarakat yang inklusif,” ujar Naftalia, salah satu peserta GLP sambil tersenyum.
Tim GLP juga melakukan observasi ke Bantul dan sekitar Yogyakarta untuk mencari tahu perkembangan social enterpreneurship di Indonesia secara langsung. Beberapa sentra social enterpreneurship yang mereka kunjungi misalnya ‘Messenjah’ clothing yang mewadahi generasi muda yang termarjinalkan dan ‘Mandiri’ Craft yang menyelenggarakan pendidikan pembuatan boneka bagi penyandang cacat, 
Naftalia menjelaskan bahwa di Indonesia, social enterpreneurship yang mengusung konsep memajukan ekonomi masyarakat marjinal melalui bisnis belum dikenal luas. Billy menanggapi bahwa sebenarnya social entrepreneurshipsudah ada di Indonesia. Namun masyarakat Indonesia biasa mengenalnya dengan kerja sosial atau bakti sosial.
“Padahal beda. Kalau social entrepreneurship bentuknya berupa bisnis dan ada keuntungannya. Keuntungan itu bukan buat entrepreneur semata tapi juga buat kesejahteraan masyarakat dan lingkungan,” papar Billy.
Sementara itu, saat presentasi di Filipina, tim GLP USD diberi kesempatan berdiskusi dengan delegasi dari negara lain. Ternyata tidak semua negara memiliki masalah social entrepreneurship yang sama. “Contohnya, negara maju seperti Jepang dan Korea nggak punya social entepreneurship untuk sektor lingkungan karena sektor tersebut sudah ditangani oleh pemerintah secara baik,” celoteh Margareta.

 Delegasi Global Leadership Program dari berbagai negara
Tak hanya bertukar pikiran dalam diskusi, tim GLP pun melakukan work trip untuk mengunjungi sentra social entrepreneurship di Filipina yang notabene telah berkembang pesat. “Saya mengunjungi Kalabat Ng Botika Binhi, social entepreneurship di bidang obat-obatan yang diproduksi untuk orang menengah ke bawah, diberikan dengan harga yang sangat miring daripada biasanya,” kisah Billy.
Destinasi berikutnya adalah desa di danau Laguna De Bai yang memproduksi eceng gondok menjadi suvenir. Tahanang Walang Hangdanang, sebuah tempat yang mewadahi kaum cacat untuk bekerja membuat beragam mainan pendidikan dari kayu juga mereka kunjungi.
Selanjutnya mereka bertandang ke Penjara Pag-asa Ng Paglaya, lembaga pemasyarakatan berfasilitas mewah yang memberdayakan para tahanan untuk membuat lilin pendukung aktivitas gereja. Terakhir, mereka bereksplorasi di Messy Bessy, perusahaan yang mempekerjakan kaum muda untuk menciptakan produk daur ulang botol plastik dengan pemasaran yang amat baik.
“Pembelajaran yang kudapat dari work trip dan proses GLP di Filipina adalah kita bisa mengubah kesusahan menjadi keuntungan,” ucap Naftalia. “Kita sebagai donatur lebih baik memberi kesempatan kerja dan skill sehingga orang yang kita bantu bisa terus menghasilkan uang lewat wirausaha,” lanjutnya.
Sebagai keluaran GLP, Margareta menyatakan bahwa tim GLP akan mengadakan aksi nyata berupa sosialisasi tentang social entrepreneurship di tingkat USD dalam waktu dekat. Billy menambahkan bahwa sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi dirinya ingin mengenalkan social entrepreneurship pada mahasiswa di fakultasnya. “Kebanyakan anak ekonomi bahkan dosenpun nggak tahu social entrepreneurship itu apa,” ucapnya. “Saya mau memperkenalkan konsep ini pada mereka. Sebagai entrepreneur, kalau saya punya bisnis saya nggak hanya berusaha menjadi kaya, mendapat laba sebesar-besarnya tapi juga supaya lingkungan sekitar bisa diberkati,” pungkasnya.

Penulis: Vania Williany
Reportase Bersama: Rosa Vania Setowati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *