Oh? Kudus! Kretek!

Catatan Perjalanan Hari Pertama
Untuk memperoleh sesuatu, suka atau tidak suka, memang diperlukan suatu pengorbanan. Itulah yang dilakukan oleh beberapa anggota majalah natas dalam reportasenya ke Kudus, Jawa Tengah. Kru natas berangkat ke Kudus pada Senin (4/8) untuk mewawancarai sumber-sumber yang berkaitan erat dengan kretek, tema penerbitan majalah edisi 2014. Perjalanan menggunakan mobil yang memang sengaja disewa untuk  menghemat biaya yang dirasa lebih murah ketimbang menggunakan bus.
Perjalanan ditempuh pada siang hari, tepat pukul dua belas siang. Perjalanan dari Yogyakarta menuju Kudus dimulai dengan keterlambatan yang memang sudah sangat membudaya di Indonesia. Perjalanan melintasi Yogyakarta hingga melewati Magelang dan Muntilan  kami tempuh dengan sangat menyenangkan. Tak ada hambatan berarti yang kami temui meskipun sang supir yang juga anggota natas tidak mengetahui arah jalan ke Kudus.
Sempat beristirahat sebentar dan bertanya arah kota Kudus, kami sempat diberitahu bahwa biaya masuk tol adalah duapuluh lima ribu. Tetapi saat perjalanan diteruskan menuju tol ke arah Semarang, ternyata biaya masuknya hanya tujuh ribu. Di jalan tol yang sangat panjang dan luas, kami hanya mengandalkan petunjuk arah dari penanda jalan yang ada. Ternyata, jalan tol yang dilalui memiliki pos lagi dan harus membiayai biaya tol lagi, seharga enam ribu lima ratus perak. Kemudian kami harus membayar lagi dua ribu rupiah di pos berikutnya. Ah ya, jadi kalau ditotal, pengeluaran tol kami memang mencapai duapuluh lima ribu rupiah.
Akhirnya, kami pun tiba di kota Semarang, Jawa Tengah, meski harus berputar balik memasuki tol hingga kemudian tiba di Demak. Belum cukup di sana, perjalanan terus dilanjutkan hingga kami tiba di kota Kudus, Jawa Tengah.
Setelah melalui lima jam perjalanan, sampailah kami di kota tujuan. Kata pertama yang mewakili kota Kudus adalah “dingin” dan “nyaman” sebab terdapat banyak lahan persawahan di sepanjang jalan di kota Kudus. Usai beristirahat sebentar di SPBU Kudus, kami yang diburu waktu segera melanjutkan kembali perjalanan. 
Salah satu mobil yang menuju Kudus yang kami temui di perjalanan
Bingung dengan jalan di kota Kudus sedangkan alat elektronik penunjuk arah sudah kehabisan baterai, kami sempat kesulitan menuju STAIN (Sekolah tinggi Agama Islam Negeri) Kudus. Kampus STAIN memang merupakan tempat salah satu kawan natas yang bersedia menampung dan menemani kami bereportaseselama di kota Kudus.
Sesudah melewati mall kota kudus, GOR Djarum (hanya melewati lho…) dan mencari lokasi STAIN selama satu jam, akhirnya pada pukul enam lewat beberapa menit, kami tiba di kampus STAIN. Kami disambut dengan ramah dan hangat oleh rekan-rekan LPM Paradigma, pers mahasiswa dari STAIN. Meski masa perkuliahan di kampus baru akan dimulai minggu depan, tetapi anggota LPM Paradigma cukup banyak yang berada di kampus.
Oleh rekan-rekan LPM Paradigma, kami disambut dengan “lepet”, makanan tradisional yang dibuat pada hari ketujuh lebaran. “Lepet” terbuat dari nasi dan santan, dibungkus dengan daun kelapa. Salah satu anggota LPM Paradigma menjelaskan bahwa “lepet” berasal dari kata lipat yang berarti lipat dan memiliki arti filosofis bahwa segala keburukan dan sifat yang tidak baik, haruslah dilipat untuk kemudian dihilangkan.
Percakapan dengan anak Paradigma pun terus dilanjutkan, meski sebagian anak natas pergi mewawancarai Pak Zamhuri, salah seorang narasumber yang merupakan peneliti di Pusat Studi Kretek Indonesia (Puskindo). Anggota natas yang tertinggal pun berbagi cerita dengan anggota Paradigma membahas mengenai pers mahasiswa, saling berbagi cerita dan mengenalkan apa yang terjadi di Kudus, dan apa yang terjadi di Yogyakarta.
Hari itu, kami jadi semakin tahu, bahwa kretek memang sudah menjadi bagian dari budaya di Kudus. Membahas kretek, berarti membahas sejarah dan kehidupan kota Kudus. Membahas kretek berarti membahas apa yang terjadi saat ini, bahwa kretek banyak berperan dalam kehidupan ekonomi di kota Kudus. Membahas kretek juga berarti membahas kebijakan pemerintah terhadap kretek, pun membahas dampaknya terhadap warga Kudus, kota kretek. 
Laura Artha Manofa Sianturi, staff majalah

Reportase bersama Vania Williany, Rosa Vania, Teresia Dian

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *