From Kudus with Love and Kretek

Catatan Perjalanan Hari Kedua
Pagi itu hari ke-7 setelah perayaan Idul Fitri. Kami terbangun dengan tampan dan cantik di sekretariat LPM Paradigma STAIN Kudus. Tak beberapa lama kami merasa lapar. Ternyata masih sedikit pedagang maupun warung yang menjajakan makanan di jalan-jalan besar kota kretek. Setelah beberapa reporter majalah natas berputar-putar jalanan Kudus, akhirnya mereka menemukan pedagang nasi pecel. Setelah membungkusnya,  mereka kembali ke kampus STAIN Kudus untuk makan bersama.

Kami sarapan bersama anggota LPM Paradigma yang semalam suntuk mengerjakan majalah mereka yang sudah mendekati deadline. Entah kenapa sarapan pagi itu terasa nikmat walaupun menunya sederhana—nasi, tempe tahu, sejumput sayuran hijau yang disiram dengan bumbu kacang. Mungkin saja karena setelahngobrol tadi malam kami sama-sama tahu rasanya menjadi anggota LPM. Berkelana, menumpang bermalam sementara waktu di ruang-ruang sekretariat LPM lain, berbagi cerita dan keresahan, dan tentu saja menuliskan semua cerita itu sudah menjadi kebiasaan bersama kami.
Selesai menghabiskan sarapan dan mengakhiri obrolan, kami menyempatkan diri untuk bertukar hasil karya kami berupa majalah dan buletin. Kami memberikan NHN (natas Hot News) dan majalah natas sebagai kenang-kenangan. Sebagai gantinya mereka memberi kami majalah Paradigma, buletin sastra serta buletin Parist (Paradigma Institute) Plus. Tak lupa kami mengabadikan momen sederhana kami bersama teman-teman Paradigma di depan sekretariat mereka.

Reporter UKPM natas berfoto bersama beberapa anggota LPM Paradigma
Dua orang anggota LPM Paradigma mengantar kami menuju tempat reportase selanjutnya, Museum Kretek. Perjalanan hanya sekitar lima belas menit dari kampus STAIN Kudus. Di museum yang terletak di Jl. Getas Pejaten No. 155, Kecamatan Jati, Kudus tersebut kami berniat untuk menggali informasi lebih dalam mengenai racikan rokok khas Indonesia, kretek, serta sejarah pembuatan hingga perkembangannya.
Tepat di depan museum itu terdapat sebuah monumen berupa patung seorang petani tembakau, seorang bapak yang sedang duduk, anak lelaki kecil, seorang ibu yang menjajakan rokok serta seorang anak perempuan di belakangnya. Ketika masuk ke gedung museum saya merasa suasana di Museum Kretek agaknya sama seperti di museum-museum lainnya. Ruangannya cukup lowong. Di tepian diisi dengan barang-barang masa lampau yang ditutupi kotak kaca. Ada berbagai foto perusahaan rokok jaman dahulu, contoh jenis tembakau, saus, serta bungkus rokok berbagai merek. Peralatan untuk membuat rokok kretek juga ditampilkan dalam gedung utama museum. Yang membedakan museum ini dengan museum lain adalah adanya beberapa fasilitas tambahan seperti ruang auditorium, serta sebuah wahana bermain air anak di belakang gedung utamanya.

Salah satu sudut Museum Kretek Kudus
Setelah puas berkeliling, dua orang dari kami menyempatkan diri untuk mewawancarai kepala Museum Kretek, Bapak Suyanto, B.A. Dengan ramah beliau mempersilakan kami masuk dan duduk di ruang kerjanya saat kami melongok ke dalam. Diceritakannya sejarah kretek yang panjang mulai dari kisah raja kretek dari Kudus, Nitisemito hingga bagaimana museum kretek ini bisa berdiri dan berkembang hingga sekarang.
Seusai berbincang, Pak Suyanto sempat berpesan pada kami untuk tak lupa mengangkat isu tentang kebudayaan Kudus selain kretek. Ia berujar bahwa budaya dan mata pencaharian masyarakat Kudus membuat jenang juga menarik untuk direkam dalam catatan kami lalu diterbitkan.
Tak terasa hari mulai siang. Kami pun menuju ke rumah narasumber kedua—sekaligus terakhir—yang hendak kami wawancarai di Kudus. Bu Endang Tonny namanya. Ia adalah sang pencipta tari kretek.
Rumah bu Endang berada di sebuah perumahan yang cukup asri. Rumahnya tampak berbeda dari deretan rumah lainnya. Bagian depan rumahnya berdinding batu bata tanpa cat. Setelah beliau mempersilakan kami masuk, terlihatlah sejumlah piala serta properti tari dan modelling milik sanggarnya, Sanggar Tari Puringsari. Beliau menceritakan bagaimana awal mula menciptakan tarian yang sekarang jadi tari khas Kudus ini. Bu Endang juga mengeluarkan koleksi foto-fotonya menari bersama anak didiknya dari tahun 1987 hingga album foto yang paling anyar.
Sebenarnya banyak hal yang masih ingin kami ketahui dan pelajari dari perjumpaan ini. Belajar menggunakan jarik serta menirukan gerakan mbathilmisalnya. Meski ingin tak beranjak, kami diburu waktu untuk segera kembali ke Yogyakarta. Mobil sewaan kami tak bisa lebih lama lagi dipinjam. Akan tekor jadinya pengeluaran kami. Ha ha ha.
***
Walau mobil yang kami tumpangi berpendingin udara, siang itu udara cukup panas sehingga perjalanan kami terasa melelahkan. Mencari alamat di kota yang tak pernah kita kunjungi sebelumnya tentu tak semudah mencari alamat di Yogyakarta—di mana semua tempat bisa kita datangi dengan mudah karena sudah familier. Beberapa kali kami salah jalan, salah masuk gang dan harus berputar balik. Walaupun begitu, kami tetap bersemangat dan mengganggap di situlah justru seninya berkelana.
Seusai berbincang dengan bu Endang Tonny, kami merasa cukup lapar. Kami penasaran dengan soto yang terkenal dan digadang-gadang sebagai ciri khas masakan di Kudus. Dari rumah Bu Endang yang cukup dekat dengan Universitas Muria Kudus tersebut, kami tancap gas menuju Alun-alun Kudus, atau yang sering disebut juga Alun-alun Simpang Tujuh.
Ada pengalaman menarik yang kami dapatkan siang itu. Di sebuah jalan utama Kudus ada rumah makan yang lumayan besar, banyak dikunjungi keluarga-keluarga dan pelancong yang mampir di kota Kudus. Di sana beberapa dari kami menghabiskan garang asem beserta sepiring nasi yang dipatok seharga dua puluh lima kali lipat harga nasi kucing di angkringan.
Awalnya kami tidak tahu garang asem itu makanan apa. Maklum kami datang dari daerah yang berbeda-beda. Namun setelah kepala kami pening dan perut kami keroncongan mencari soto Kudus—rekomendasi bapak polisi yang kami tanyai di sebuah pos jaga di Simpang Tujuh—yang tak kunjung ketemu, kami memutuskan untuk mengganjal perut dengan garang asem tersebut. Yah. Rasanya masam, harganya juga sempat membuat kami berceletuk “Asem”. Ha ha ha. Kami, yang biasanya anak nongkrong angkringan ini, merasa harga garang asem beserta sepiring nasi tersebut cukup menguras kantong. Tapi tak apa, bagi kami, ini sebuah hidangan yang layak untuk disantap sebagai gong perjalanan kami di kota kretek.

 Rosa Vania Setowati, Sekretaris Umum UKPM Natas
Reportase bersama Vania Williany, Laura Artha Manofa, Teresia Dian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *