Pelecehan Seksual di Kampus, Begini Tanggapan Rektor USD

                     Perguruan tinggi adalah tempat lahirnya intelektual yang diharapkan bisa menjadi generasi penerus bangsa. Selain itu, perguruan tinggi juga merupakan tempat proses terjadinya interaksi dan pengembangan berbagi ilmu antara dosen dengan mahasiswa. Namun, di perguruan tinggi juga dapat terjadi penyelewengan-penyelewengan yang mencoreng nama baik pendidikan. Salah satunya adalah tindakan pelecehan seksual. Pelecehan seksual yang terjadi di perguruan tinggi barangkali sudah menjadi rahasia umum. Hal ini senada dengan hasil wawancara awak natas bersama Rektor Universitas Sanata Dharma (USD), Johanes Eka Priyatma pada Kamis (13/09/2018).

                   Eka, sapaan dari Rektor USD ini, mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk kasus (pelecehan seksual-red) tersebut. Seperti adanya kode etik untuk dosen, peraturan kepegawaian, dan kode etik perilaku mahasiswa dari sisi ketentuan yang ada. Pria kelahiran 20 Oktober 1963 ini melanjutkan bahwa perlakuan yang didapat oleh mahasiswa dan siswa SMA ke bawah berbeda, karena umur mahasiswa yang terbilang mulai beranjak dewasa. Namun, tidak menutup kemungkinan jika mahasiswa rentan terlibat dalam kasus pelecehan seksual dikarenakan adanya relasi tidak seimbang dengan dosen. “Misalnya, mahasiswa takut karena dosennya memegang kendali nilai,” terang Eka.

                  Beliau mengungkapkan, selama kepimpinan 4 tahunnya (periode pertama-red), dia telah mengeluarkan 2 dosen yang terlibat kasus pelecehan seksual. Ia melanjutkan, pada saat ini ada 1 dosen yang sedang ditangani dalam kasus yang serupa. Kasus-kasus seperti ini sudah pernah terjadi sebelum ia menjabat menjadi rektor. “Dosen yang melakukan tindakan berat dikeluarkan (dipecat-red). Sementara itu, yang ringan masih diberikan peringatan, tetapi disanksi dengan tidak dinaikkan jabatannya,” ungkap Eka. Menurutnya, kasus yang seperti ini pasti akan ditindaklanjuti dan tidak perlu diumbarkan ke publik. Jika pimpinan tahu akan kasus seperti ini, maka pimpinan akan mengusut kasus tersebut.

Usaha Penanggulangan Kasus

                Berbicara mengenai kasus pelecehan tersebut, pria yang mempunyai hobi badminton dan berkebun ini menjelaskan solusi-solusi untuk kasus ini. “Ada berbagai cara yang telah dan sedang dipersiapkan untuk menanggulangi kasus pelecehan di kampus, yakni tim protokol, tim komisi etik dan perilaku, serta beberapa kebijakan di kampus,” katanya.

                 Pertama, tim protokol dibentuk dengan tujuan memberi perlindungan kepada kaum minor dan vulnerable. Tim protokol nantinya akan mengatur bentuk-bentuk relasi yang gunanya untuk mencegah atau menghindari terjadinya tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan moral. Misalnya, saat mahasiswa sedang berkonsultasi dengan dosen pembimbing, pintu ruangan tidak boleh ditutup dan dosen tidak boleh mendatangi tempat tinggal mahasiswa. Tim protokol dicanangkan selesai akhir tahun ini.

                 Kedua, tim komisi etik dan perilaku adalah tim yang dibentuk oleh senat dengan tujuan untuk mengusut kasus yang seperti ini. Jika kasus seperti ini masih belum jelas maka dibutuhkan data dan penyelidikan untuk menguatkan kebenaran. Tugas tim etik dan perilaku yaitu mengusut, melakukan penyelidikan, hingga mengeksekusi.

                 Ketiga, kebijakan kampus yaitu dengan diberlakukan jam maksimum tutup kampus, jam maksimum kuliah, hingga pemasangan CCTV yang merupakan bagian dari pelindungan (pencegahan di kampus-red). Eka mengungkapkan keprihatinannnya terhadap kasus pelecehan seksual yang terjadi di ranah pendidikan. Beliau juga mengakui bahwa susah untuk memberantas kasus ini. Menurutnya, manusia tidak sama seperti mesin yang bisa diatur sesuai dengan keinginan manusia. “Manusia tidak sesederhana itu, yang bisa dilakukan adalah pencegahan dan perlindungan. Kasus pelecehan juga tidak hanya terjadi di ranah pendidikan tetapi juga terjadi di ranah umum,” jelasnya. Eka menekankan yang bisa dilakukan adalah pencegahan dan perlindungan seperti ketiga solusi di atas.

                Eka berharap agar persoalan ini menjadi kepentingan semua pihak. Bukan hanya kepentingan pejabat saja. Sebisa mungkin, semua pihak mengawal supaya kasus-kasus seperti ini tidak terjadi lagi. Caranya harus berani melaporkan, mengingatkan, dan tidak cuek atau tutup mata. “Kalo temannya menghadapi itu ya temannya dibantu untuk berani bersikap, berani terbuka. Kita pada posisi (kasus ini-red) untuk melindungi mahasiswa meskipun tidak termasuk dalam golongan minor dan vulnerable,” tutur Eka di akhir wawancara.

Penulis : Griselda Afni W.

Reporter : Clarita F. Simarmata dan Griselda Afni W.

Editor : Fika Rosario

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *