Aksi Solidaritas 100 Hari Tenda Perjuangan Rembang di Yogyakarta

doc. Ferdi
Pemutaran film dokumenter perjuangan masyarakat Pandang Raya, Rembang, dan Kulonprogo
Forum Komunikasi Masyarakat Agraris (FKMA) mengadakan aksi solidaritas di Kedai Keblasuk, Jalan Puri Permata I Ngringin (23/09). Aksi itu dimulai dari pukul 15.00 dan berakhir sekitar pukul 23.45 waktu setempat. Menurut Ruru, koordinator acara sekaligus relawan divisi media FKMA, aksi terdiri dua bagian, yaitu aksi solidaritas dan penggalangan dana. Aksi solidaritas ditujukan untuk merespon seratus hari perlawanan petani Rembang, sedangkan penggalangan dana dilakukan untuk membantu warga Pandang Raya, Makassar, yang terkena penggusuran.

Rangkaian aksi diawali dengan pemutaran film dokumenter tentang perjuangan masyarakat di berbagai daerah. Aksi-aksi perjuangan terjadi di Pandang Raya, Rembang, dan Kulonprogo. Bagian film di Pandang Raya difokuskan pada perlawanan masyarakat terhadap eksekusi lahan yang dilakukan oleh pengusaha Goman Waisan. Bentuk aksi warga Rembang menolak pembangunan pabrik semen PT Semen Indonesia menjadi sajian utama dalam bagian film yang kedua. Dalam bagian film dokumenter terakhir, ditampilkan sengketa lahan antara petani pesisir Kulonprogo dengan PT Jogja Magasa Iron (JMI), perusahaan penambang pasir besi.
doc. Ferdi
Pembicara diskusi konflik lahan antara pemilik modal, pemerintah, dan warga sipil
Setelah pemutaran film, diskusi pembahasan konflik sengketa lahan antara pemilik modal dan pemerintah dengan warga sipil digelar. Salah satu narasumbernya merupakan petani pesisir Kulonprogo, yaitu Warsito. Pada sesi akhir diskusi, narasumber yang berdomisili di Kulonprogo itu menutupnya dengan mengungkapkan pandangannya terkait konflik di daerah asalnya.
doc. Ferdi
Pameran foto dan poster di aksi solidaritas 100 hari tenda perjuangan 
Pihak penyelenggara juga mendirikan stand pameran. Foto-foto hasil jepretan warga di daerah konflik sengketa lahan dipajang di stand tersebut. Ruru bercerita bahwa beberapa warga yang memotret proses penggusuran ditahan oleh pihak berwajib lantaran dikira wartawan gadungan. Lebih lanjut, Ruru menjelaskan pameran foto tersebut diadakan untuk menampung suara rakyat di area konflik persengketaan lahan. “Membantu ngeshare (menyebarkan isu penggusuran dan sengketa lahan-red),” tambahnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Ruru, untuk sementara ini aksi solidaritas serupa juga dilakukan di Surabaya, Malang, Rembang, Semarang, dan Yogyakarta. “Harapannya, aksi itu bisa mencapai seratus titik,” ungkap Ruru.

Di pertengahan acara, penonton disuguhi pertunjukan musikalisasi puisi. Grup musik, Kepal-SPI, Sphinxter dari Australia, Sisir Tanah, Sampar, dan Talamariam juga ikut berpartisipasi dalam aksi, sedangkan Ilalang Zaman batal membawakan lagu-lagunya karena kendala waktu. Terakhir, Ruru menutup rangkaian aksi solidaritas dan penggalangan dana dengan membaca puisi.

Penulis: Achmad Fatkhur Hidayat Fajar

Reportase Bersama: Rosa Vania Setowati, Teresia Dian Triutami, Ig. Mayo Aquino P. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *