Pementasan Perdana Tutu Club, Semangat Berproses dalam Berkarya

salah satu adegan dalam Red Curse Living Dream

Bertempatkan di Aula PGSD Universitas Sanata Dharma (USD), Tutu Club mengadakan pagelaran tari balet (27/09).Kegiatan tersebut merupakan pementasan perdana dari UKM yang baru diresmikan pada tahun 2013. Lakon yang diusung dalam pementasan itu adalah Red Curse Living Dream.

Michael selaku Pimpinan Produksi menuturkan bahwa lakon tersebut diadaptasi dari cerita Sleeping Beauty atau Putri Tidur. Akan tetapi, epilognya telah diubah sedemikian rupa hingga tampak berbeda dari cerita aslinya. Semua tokoh utama dalam lakon pementasan itu diceritakan mati. Bahkan tokoh Putri dan Pangeran berhasil dibunuh oleh Penyihir. “Kalau Sleeping Beauty ‘kan berakhir bahagia, sedangkan ini (Red Curse Living Dream) akhirnya tragis.” Jelas mahasiswa jurusan Sastra Inggris tersebut.

Sebenarnya Michael bukan anggota Tutu Club tetapi karena UKM balet itu kekurangan personel, ia diminta membantu dalam proses produksi. Selain itu ada dua siswa dari Bailamos Dance School yang juga ikut terlibat sebagai penari. Dalam hal penataan lampu pun pihak Tutu Club meminta bantuan dari mahasiswa ISI Yogyakarta.

Saat ditanya tentang ketertarikannya untuk bergabung dalam keanggotaan Tutu Club, Michael menjawab masih belum tahu. Hal itu dikarenakan oleh kesibukan kuliahnya. “Belajar menari sih tertarik, tapi masih kesulitan menyesuaikannya dengan jadwal kuliah.” Kata Michael.

Lebih jauh tentang pementasan, Brigitta, Koreografer Tutu Club, mengaku kesulitan selama proses produksi. Dari keseluruhan penari, beberapa di antaranya sama sekali tidak memiliki basic menari. Sedangkan, tari balet yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi itu membutuhkan ketrampilan yang harus diasah sejak usia dini. Akan tetapi mahasiswi PBI itu menyikapinya dengan optimis. Berbekal motivasi “gak ada yang gak mungkin di dunia ini”, Brigitta menggembleng teman-temannya. Selama lima bulan berproses para penari juga menunjukkan keseriusannya.

Yang menarik dari Tutu Club, sekaligus membedakannya dengan kelompok tari lainnya, adalah semangatnya untuk berbagi. Itu seperti yang tertera dalam moto UKM tersebut, “berlatih, berproses, dan melayani”. Sebisa mungkin, mereka akan menyisakan pendapatan setiap event yang mereka lakukan untuk disumbangkan. Bahkan, sebelum pementasan Red Curse Living Dream, Tutu Club sempat mengamen yang hasilnya disumbangkan untuk korban letusan Gunung Kelud. “Rencananya, bulan depan kami akan mengajar balet di panti asuhan di Ganjuran.” Tambah Brigitta.

Koreagrafer Tutu Club itu juga mengatakan harapannya untuk komunitas yang digelutinya itu. Ia ingin agar Tutu Club tetap bisa melayani, berbagi kepada sesama. Juga memperbanyak jam terbang pementasan di tempat lain serta mendapat memperluas jaringan perkenalan. Khusus untuk pementasan, Brigitta mengatakan bahwa rencana pentas selanjutnya akan diselenggarakan setidaknya dua tahun lagi. Dia mau menyempurnakan ketrampilan menari teman-temannya sebelum pementasan selanjutnya.

Terlepas dari kekurangan dalam dasar ketrampilan menari, pementasan perdana Tutu Club itu memuaskan. Hal itu seperti yang diungkapkan oleh salah satu penarinya. Nita, pemeran King, mengaku puas dengan pementasannya.

Tampaknya, pengakuan itu pun tidak bertepuk sebelah tangan. Para penonton menyambut pementasan tersebut dengan antusias tinggi. “Empat jempol untuk pementasan perdana,” kata Siska, dosen USD.

Ahmad Fatkhur Hidayat Fajar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *