Mempertanyakan Rendahnya Kemampuan Berbahasa Inggris Masyarakat Indonesia

“Mereka yang tidak mengenal bahasa asing sama saja buta akan bahasa mereka sendiri”

—Johann Wolfgang Von Goethe

              Martin Albrow mendefinisikan globalisasi sebagai proses di mana penduduk dunia akan terhubung dalam sebuah komunitas global dan dunia tunggal. Dalam menjalin relasi antarnegara ini, kita membutuhkan suatu “bahasa universal” sebagai media komunikasi global. Pada kancah internasional, bahasa Inggris telah menjadi pusat komunikasi (lingua franca) di bidang bisnis, politik, administrasi, ilmu pengetahuan, dan akademis. (Held, 1998)

            Menurut penelitian, sebanyak 1,5 miliar dari 7,5 miliar populasi manusia di bumi ini  berbicara bahasa Inggris. Namun tidak semuanya merupakan penutur asli. Sekitar 360 juta orang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu sedangkan sisanya memosisikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (second language) atau bahasa asing (foreign language).

            Berbeda dengan Belanda yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, Indonesia menempatkan bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Era globalisasi menuntut setiap individu untuk memiliki kecakapan yang andal di bidang IPTEK. Kita dapat mengimbangi persaingan di bidang pendidikan, ekonomi, pariwisata, dan budaya dengan negara lain apabila memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, mahir berbahasa Inggris menjadi kekuatan tersendiri.

            Berbagai terobosan telah dilakukan pemerintah demi mengoptimalkan penguasaan bahasa Inggris di kalangan masyarakat. Kebijakan mengenai pelajaran bahasa Inggris di sekolah adalah salah satunya. Mulai dari sempat diberlakukannya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), pengadaan ekstrakurikuler bahasa Inggris seperti English Club di sekolah-sekolah, hingga penyelenggaraan uji TOEFL/IELTS/TOEIC untuk tingkat SMA/SMK. Tidak dapat dibantah jika pembelajaran bahasa Inggris telah berusaha ditanamkan kepada masyarakat Indonesia sejak dini.

            Namun apakah usaha tersebut berjalan sesuai harapan? Faktanya, cara-cara di atas belum memberikan sumbangsih yang berarti bagi kelancaran berbahasa Inggris masyarakat Indonesia. Menurut survei yang diadakan EF English Proficiency Index tahun 2017 dalam hal kemahiran berbahasa Inggris, Indonesia menempati posisi 39 dari 80 negara dengan skor akhir 52,15.

            Dari lima golongan (sangat rendah, rendah, menengah, tinggi, sangat tinggi), Indonesia masuk pada kategori rendah. Padahal, Indonesia sempat mengukir prestasi yang cukup baik. Pada tahun 2016, Indonesia ada pada peringkat 32 dari 72 negara dan masuk kategori menengah. Kini, kita harus puas berada di bawah Vietnam yang bertengger di posisi 34. Rentang posisi ini makin jauh apabila disandingkan dengan Malaysia yang berada di peringkat 13 dan masuk dalam kategori tinggi.

            Dapat ditarik berbagai kemungkinan mengenai penyebab rendahnya kemahiran berbahasa Inggris masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah sistem pembelajaran yang tidak imbang pada setiap aspek. Pada dasarnya, kita harus menguasai empat aspek pokok ketika belajar bahasa asing yaitu mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Ke-empat hal tersebut hendaknya dilaksanakan secara selaras. Jika kita menilik sistem di lapangan (kita ambil contoh di lembaga pendidikan formal), mayoritas pembelajaran yang ada cenderung berkutat pada dua aspek yaitu membaca dan menulis namun mengesampingkan aspek mendengar dan berbicara.

            Metode pengajaran bahasa Inggris umumnya sekadar menekankan penguasaan teoritis dibanding praktis. Pembelajaran yang terjadi hanya sampai pada “paham membaca teks berbahasa Inggris” seperti menjawab soal-soal, ujian grammar, dan membuat esai dengan sedikit porsi pada aspek percakapan.

            Sawir melakukan sebuah penelitian mengenai kemampuan berbahasa asing siswa Indonesia yang sedang mengenyam pendidikan di negeri kangguru, Australia. Ketika ditanya mengenai pengalamannya belajar bahasa Inggris di tanah air, siswa tersebut mengaku bahwa kesempatan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris di Indonesia sangat minim. Saat pelajaran bahasa Inggris pun masih menggunakan pengantar bahasa Indonesia. Sementara di Australia, berbicara bahasa Inggris merupakan suatu keharusan sehingga kemampuan berbahasa Inggrisnya meningkat drastis. Ini membuktikan bahwa pendidikan bahasa Inggris di Indonesia masih berjalan dalam aspek kognitif dan psikomotorik belaka.

            Gaya pembelajaran secara teoritis tersebut perlahan membentuk suasana belajar menjadi pasif. Pengetahuan hanya berpusat pada pengajar tanpa ada timbal balik dari pengajar ke siswa. Siswa seolah menjadi pihak penerima ilmu tanpa ada kesempatan melatih kemampuan bahasa Inggris mereka secara intens. Secara tidak langsung, ini dapat menjadi akar penyebab miskinnya keterampilan berbicara bahasa Inggris.

            Di sisi lain, motivasi belajar masyarakat terhadap bahasa Inggris masih tergolong rendah. Mayoritas masyarakat memiliki pola pikir bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang sulit ditaklukkan. Grammar atau tata bahasa seringkali menjadi momok bagi seseorang yang ingin belajar bahasa asing. Struktur bahasa Inggris memang jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris memiliki aturan gramatika yang lebih rumit. Misalnya akhiran “-ed” di akhir kata yang merujuk sebagai kata ganti bentuk ketiga atau bentuk lampau seringkali membuat bingung seseorang yang mulai belajar bahasa Inggris.

            Sebagai contoh, pemberian akhiran “-ed” pada kalimat lampau “I walked” (saya berjalan) atau “She cooked dinner” (dia memasak makan malam). Karena ketidakpahaman tenses, aturan tersebut seringkali digeneralisasikan pada seluruh kalimat. Contohnya memberikan akhiran “-ed” pada kalimat “I finded the ball” yang seharusnya “I found the ball”. Kesulitan memahami grammar merupakan salah satu penghalang besar pada orang yang belajar bahasa Inggris.

            Seperti yang dikatakan Bensor and Lor (1999), sukses dalam berbahasa asing tergantung dari cara pandang kita dalam belajar. Apabila kita percaya bahwa cara terbaik belajar bahasa asing adalah dengan mengingat kosa kata dan tata bahasa, maka kemampuan kita akan terasah dalam hal teori, analisis, dan memori. Namun jika kita percaya bahwa cara terbaik belajar bahasa asing adalah dengan mengimplementasikan langsung dalam konteks sehari-hari, maka kita akan unggul dalam hal strategi bersosialisasi dan berkomunikasi.

            Menyikapi persoalan di atas, idealnya metode pengajaran yang tepat adalah bagaimana kita dapat melatih memori, pengucapan, dan pendengaran secara bersamaan. Masyarakat Indonesia dapat melirik pada model pembelajaran Problem-based learning. Problem-based learning—yang selanjutnya disingkat PBL adalah kaidah pengajaran dengan menyuguhkan masalah di setiap pertemuannya. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, kita dituntut agar selalu membekali diri dengan pengetahuan baru.

            Pola PBL adalah kita menganalisis suatu masalah kemudian menyelesaikannya di bawah bimbingan pengajar. Bentuknya dapat berupa kerja kelompok, presentasi, atau permainan. Pembelajaran pun akan menjadi lebih efektif karena kita terlibat secara aktif, kolaboratif, dan mandiri. Hal ini lebih relevan untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan di dunia kerja dibandingkan hanya mengerjakan soal-soal ujian saja.

            Apabila dilaksanakan secara kontinu, metode pembelajaran seperti ini akan membuat kita terbiasa menghadapi masalah dan memecahkannya secara terampil. Semua itu karena PBL dapat merangsang kemampuan berpikir kita menjadi lebih kritis dan kreatif.

            Nantinya, kemahiran berbahasa Inggris tidak lagi hanya hitam di atas putih. Mahir berbahasa Inggris bukan orang yang mendapat nilai sempurna di ijazah, melainkan orang yang mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis sesuai tata cara yang benar. Menguasai bahasa Inggris memang bukan keharusan, tetapi kebutuhan. Apabila mahir berbahasa Inggris, kita tidak “bermain aman” hanya dengan bisa berbahasa Indonesia, namun kita dapat memperluas zona sosial kita sampai tingkat internasional. Perlu diingat bahwa bahasa Inggris bukanlah sains yang memiliki rumus pasti, namun sebuah kebiasaan yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Penulis: Gabriella Anindita

Editor : Rusdiyanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *