Ketidakmaksimalan Peran Pemerintah dalam Pemberdayaan SDM dan SDA Masyarakat Desa Ngentak

                  Indonesia merupakan negara yang memiliki beraneka ragam potensi alam, seni dan budaya.  Keberanekaragaman alam ini dapat mewarnai Negara Indonesia sehingga menjadi Negara yang indah dan kaya akan potensi alam, seni, budaya dan bahasa. Salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai keanekaragaman alam, seni dan budaya adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Daerah Istimewa Yogyakarta ini memiliki empat kabupaten serat satu kotamdaya yang banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara, maupun wisatawan nusantara, terdapat ribuan customer per hari mengunjungi berbagai obyek yang dimiliki oleh provinsi ini antara lain Candi Prambanan, Candi Borobudur, Gembiraloka, Kaliurang, Parangtritis, Keraton Yogyakarta dan berbagai obyek wisata lain yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarat (DIY). Pengembangan pariwisata yang ada di DIY tidak hanya di titik beratkan pada obyek wisata yang telah dikenal masyarakat luas. Meskipun demikian  ada alternatif andalan lainnya yang mulai dikembangkan yaitu Desa Wisata dengan potensi alam, seni dan budayanya.

               Desa Wisata lebih bergerak pada bidang studi pengembangan budaya dan pariwisata berbasis potensi lokal. Salah satu yang akan kita bahas disini adalah Dewi Perikatak. Dewi Perikatak merupakan singkatan dari Desa Wisata Pereng Indah Kali Ngentak. Dewi Perikatak terletak di desa Ngentak Bangunkerto Turi Sleman. Desa Ngentak merupakan salah satu desa penghasil salak di Kabupaten Sleman. Sebagian warga penduduknya bermata pencaharian sebagai petani salak. Di desa tersebut, juga terdapat berbagai sumber daya alam seperti air terjun dan sungai.

                Konsep Dewi Perikatak digagas sejak tahun 2012 namun sempat macet dan mulai dikembangkan kembali tahun 2016. Para pemuda mulai bersepakat untuk mengembangkan lagi karena melihat adanya potensi sungai yang dimiliki desa ini. Pembuatan desa wisata ini terinspirasi ketika para pemuda melihat sungai yang ada di desa wisata tetangga yang memanfaatkan sungai sebagai spot wisata. Kemudian, meraka berpikir “Mengapa kita tidak buat desa wisata, sungainya di tempat kita jauh lebih bagus dan lebih lebar?” tutur salah seorang pemuda. Akhirnya gagasan tersebut ditindaklanjuti dan ‘susur sungai’ dan ‘petik salak’-lah yang kemudian  menjadi komoditas wisata yang berkembang dan selanjutnya menjadi sasaran bagi para wisatawan yang ingin berkunjung ke desa ini.

Keadaan Sungai

                Impian para pemuda yang sudah mulai untuk membangun dan melestarikan keindahan alam yang ada disekitar  sangat besar. Namun,  dalam proses pembangunaan desa wisata ini, para pemuda tidak di dampingi oleh seluruh warga sekitar dan aparat pemerintah desa sehingga wisata yang telah di bangun oleh para pemuda sekitar tidak  berjalan dengan baik. Hal ini dapat terlihat bahwa impian para pemuda yang sudah dengan berani berkolaborasi untuk membangun wisata di desa belum tercapai karena adanya kurang dukungan dana dari pihak pemerintah untuk membangun wisata itu.

               Desa Ngentak dikatakan belum layak untuk dijadikan desa wisata karena, masih banyaknya hal-hal yang harus dibenahi dari desa ini. Sebagai contoh, masih banyak masyarakat yang kurang terbuka, fasilitas yang masih kurang, ketakutan masyarakat bahwa ciri khas mereka akan hilang jika desa mereka menjadi desa wisata, kurangnya partisipasi beberapa masyarakat untuk mengembangkan potensi wisatanya, kekurangaktifan sebagian pemuda dalam membangun desa Ngentak menjadi desa wisata, serta tidak adanya pengembangan pembangunan fasilitas objek-objek, wisata tutur bapak Mujito selaku ketua pengelola desa wisata.

                  Terkait dengan sejumlah permasalahan diatas, pemerintah perlu memperhatikan para pemuda yang sudah berusaha mengembangkan sumber alam sebagai wisata di desa Ngentak  agar niat dan usaha yang mereka lakukan dapat berkembang. Selanjutnya, hal ini dapat memberikan inspirasi bagi warga sekitar untuk ikut mengembangkan Desa Ngentak. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mendukung pengembangan Desa Ngentak menjadi desa wisata. Pertama, pemerintah desa perlu mendampingi usaha pemudanya agar dapat melestarikan alam dengan baik dan sesuai dengan norma yang ada di desa tersebut. Misalkan, pemerintah menghimpun para pemuda dan memberikan seminar yang sesuai agar tumbuh-tumbuhan salak di sekitar tempat wisata perlu di lindungi dan di lestarikan atau hasil buahnya dapat dikelola, dan sampah-sampah yang di buang oleh para pengunjung dapat dikumpulkan agar tidak ada pencermaran udara dan juga air yang ada di daerah wisata tersebut. Kedua, aparat pemerintah desa sekitar perlu turut mengambil bagian dalam pembangunan desa wisata dengan menyediakan dana dan melengkapi fasilitas yang masih kurang pada tempat wisata yang telah diusahakan oleh para pemudanya.

                 Bayangkan jika desa ini dapat tumbuh dan berkembang, tentunya banyak sektor usaha yang tumbuh dan lapangan pekerjaan akan terbuka luas. Seperti kata Bung Hatta “Indonesia tidak akan bercaya karena obor dari Jakarta, tapi Indonesia akan bersinar karena lilin-lilin yang ada di desa”. Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa masa depan bangsa Indonesia ada “di tangan” desa. Desa hendaknya diletakkan sebagai subjek perubahan mulai dari sektor ekonomi, kesehatan, budaya, pendidikan dan politik.

                 Penulis berharap agar pemerintah desa turut mengambil bagian dalam proses pengembangan wisata desa ini. Bukankah wisata yang telah dikembangkan oleh para pemuda desa ini nantinya akan berguna bagi semua masyarakat di sekitar. Bahkan pemerintah pun turut merasakan usaha yang dilakukan oleh para pemuda desa tersebut. Oleh karena itu aparat pemerintah perlu bekerjasama untuk membangun usaha yang sedang dirintis oleh para pemuda.

Penulis :Krisda Novalia Panjaitan (Mahasiswa Program Studi Ekonomi USD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *