“Aku Tahu Kamu, Kamu Kenal Aku”

Malam Puncak Hari UKM 2014


Suasana kantin Realino malam ini sedikit berbeda. Beberapa mahasiswa dari UKM (Unit Kegiatan mahasiswa) sibuk menyiapkan panggung, beberapa asik memotong rempah-rempah dan siap memasak. “Aku Tahu Kamu, Kamu Kenal Aku” begitu tulisan yang terpampang jelas dilatar belakang panggung. Malam ini (13/11) adalah malam puncak hari UKM. Filipus ketua acara Hari UKM mengatakan bahwa tujuan diadakannya acara ini adalah untuk menyatukan kembali UKM-UKM yang ada di Universitas Sanata Dharma. “Acara ini bertujuan untuk menyatukan dan mengakrabkan kembali UKM-UKM, jadi nantikalau bertemu bisa saling tegur sapa, gak  cuma lewat aja.”
  Acara ini terbagi dalam beberapa  bagian pertama adalah sarasehan yang sudah dilaksanakan minggu sebelumnya (6/11) dan puncaknya adalah malam Jumat (13/11) yang mana seluruh UKM-UKM  bersama-sama bersuka cita dan menampilkan pertunjukan sesuai bakat dan minatnya. Di sisi lain, beberapa anggota UKM turut bergabung untuk memasak dan makan bersama.
Menurut Mentok (Mapasadha) acara ini sebaiknya dilakukan terus untuk membangun lagi kebersamaan antar UKM, “Dulu, UKM sering kumpul terutama saat Insadha, panitianya pasti anak-anak UKM, kayakSexen panitia kesenian, natas jadi cerdis, Menwa jadi keamanan, Mapasadha jadi dekdok (dekorasi dan dokumentasi) terus KSR jadi kesehatannya.” Tidak hanya dalam kepanitian Insadha, saling membantu antar UKM juga lebih terasa di zamannya “Gakada rasa malu kalau mau minta bantuan, kalau mau minta bantuan yang tinggal bilang aja,” tambahnya.
 Menyoal kebersamaan, juga sempat disinggung oleh Sapi Mapasadha (2002) ketika diwawancarai natas “Dulu, kita sering kumpul, ngobrol bareng. Kalau ada UKM yang buat acara, pasti UKM lain juga bantu! Gak kayak sekarang, kesannya kayak ada  gap antar UKM, kalau satu UKM bikin acara yang lain belum tentu bantu. Dulu setiap UKM deket, bahkan dulu kita pernah main Benteng Takeshi bareng, ya kerena pas itu lagi ngobrol terus tiba-tiba ada yang pengen main itu. Ya udah, kita pakai kertas itu terus tembak-tembakan”

Penulis: Teresia Dian Triutami 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *