Refleksi Tatanan Sosial dan Anarkisme

“Selama masih ada penindasan, mahasiswa tidak akan tidur” salah satu ucapan dari demonstran dalam orasinya.

                   Pertigaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (1/5) dipenuhi oleh demonstran yang menamai dirinya Gerakan 1 Mei (Geram). Para demonstran melakukan sebuah aksi demo dalam rangka hari buruh dengan tema “NAWACITA: Membunuh Indonesia Dari Pinggiran” untuk mengekspresikan suara mereka. Para demonstran yang terdiri dari berbagai elemen mahasiswa dan berbagai unsur gerakan/organisasi ini memulai aksinya pada pukul 15.00 WIB. Aksi ini merupakan kritik terhadap sembilan agenda prioritas (Nawa Cita)  yang merupakan program kerja Jokowi-JK.

Salah satu spanduk demonstran. Foto: natas

                     Para demonstran menilai poin nomor tiga dari Nawa Cita yang berbunyi “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan” tidak menguntungkan kaum buruh. Hal ini terkait pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang didekengi poin nomor tiga dari Nawa Cita tersebut. Bandara NYIA dinilai menghapus lapangan kerja buruh tani. “NYIA membunuh buruh tani” kata yang sering diucapkan oleh para demonstran.

              Adapun juga tuntutan lain yang disampaikan. Pertama, cabut peraturan Presiden no 20 tahun 2018 tentang tenaga kerja asing. Kedua, turunkan harga BBM dan ketiga, hapuskan rencana Presiden tentang percepatan pengadaan tanah.

               Pukul 15.49 WIB, keadaan mulai memanas saat salah seorang demonstran yang memakai pakaian serba hitam membakar pos polisi di kawasan tersebut. Bom molotov dan berbagai petasan juga dilemparkan ke pos polisi itu. Hujatan-hujatan seperti “polisi antek-antek kapitalis” ikut dilontarkan oleh demonstran. Seorang pemimpin orasi sudah mengatakan “jangan mau terprovokasi” namun aksi tetap menjadi anarkis. Fasilitas umum seperti plank rambu lalu lintas dirusak dan papan baliho diwarnai dengan tulisan “Bunuh Sultan”.

   Pos polisi yang dibakar oleh demonstran. Foto: natas

Polisi dan warga setempat hanya melihat saat hal-hal tersebut terjadi. Sukijo, salah satu warga setempat menilai hal-hal yang dilakukan para demonstran sudah melebihi batas saat ditanyai awak natas. ”Ya demo ya gak papa tapi juga pake logika to yo. Tulisan bunuh sultan itu maksudnya apa? Mau ganggu ketentraman?”

          Pukul 17.02 WIB, aksi mencapai titik klimaks saat pos polisi yang sudah dipadamkan warga kembali terkena lemparan bom molotov oleh salah seorang demonstran. Perlu diketahui bahwa warga berada pada jarak cukup dekat dari pos polisi tersebut. Warga yang tidak terima dengan perlakuan itu melawan para demonstran. Polisi anti huru-hara ikut turun tangan dan cenderung membantu warga melawan aksi anarkis tersebut.

           Tiga kali tembakan peringatan menandai berakhirnya aksi demo pada hari buruh tersebut. Namun pengejaran oleh warga dan polisi anti huru-hara terhadap demonstran masih terus berlanjut. Dikutip dari kompas.com, enam puluh sembilan orang diamankan dan tiga orang ditetapkan menjadi tersangka.

           Menanggapi aksi demo yang menjadi ricuh tersebut, salah satu demonstran sekaligus ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) D.I.Yogyakarta Faizi Zain, mengklarifikasi beberapa hal dalam surat pernyataan klarifikasinya. “Sejak awal kita sepakat aksi ini adalah aksi damai (tanpa anarkisme),” salah satu poin penting dalam surat pernyataan klarifikasi Faizi. Poin penting yang lain adalah saat para demonstran hendak melakukan pernyataan sikap (bertanda akan berakhirnya aksi). Melalui suratnya, Faizi menjelaskan bahwa sekelompok orang berpakaian gelap dengan penutup wajah (slayer) memasuki aksi demo tersebut saat demo akan berakhir. Merekalah yang diklaim Fauzi membakar pos polisi, melakukan vandalisme, melemparkan bom molotov serta tindakan-tindakan anarkis lainnya yang memancing keributan.

Penulis: Yosaphat Made

Reporter: Asriyani, Yosaphat Made

Editor: Fani Stefani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *