Merajut Asa Melalui PPSU

Sisi lain dinamika hidup dua warga ibu kota yang bekerja sebagai petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) yang direkrut oleh program Gubernur Ahok untuk perubahan lingkungan dan kehidupan warga Jakarta.

Siang itu, di sebuah rumah yang terletak tak jauh dari Kelurahan Jati, Dwi Harto (31) beristirahat sambil mengisap rokok menceritakan alasan memilih PPSU yang telah ia geluti sejak tahun 2015, “pertama, karena deket rumah, yang kedua karena pengen mengabdi di lingkungan aja jadi untuk bergerak di lingkungan sosial dan lingkungan lebih tepat di PPSU”.

PPSU adalah salah satu dari program – program pemerintah yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama memiliki misi untuk mengubah wajah ibu kota dalam lingkungan hidup dan penurunan angka pengangguran di Jakarta secara masif. Jumlah pekerja di awal pembentukan PPSU ditargetkan sebanyak 60 orang di setiap kelurahan. Kemudian pada tahun 2017, target pekerja ditambahkan menjadi 89 orang dengan pengalokasian kerja sesuai di kelurahan yang terdaftar. Dwi bersyukur sebagai PPSU sehingga ia tak perlu bekerja yang jauh dari rumahnya.

Dwi Harto (31), petugas PPSU yang telah berumah tangga dan merasakan dampak positif setelah menjadi PPSU. Foto: natas/Kitana Larasati

 

Saat pembukaan lowongan di tahun pertama PPSU, Dwi langsung mendaftarkan diri dengan memenuhi persyaratan yaitu minimal lulusan SD dan berumur antara 18-55 tahun. Berbagai proses seleksi ia jalani mulai dari administrasi, psikotes tertulis, hingga praktek langsung membersihkan saluran. Dengan adanya tahap-tahap tersebut, Dwi mengaku terlihat kemauan dan daya tahan para peserta seleksi.

Dwi menceritakan bahwa sebagian besar warga di sekitar rumahnya menjadi PPSU setelah ditawari oleh RW setempat meskipun tak semua orang yang ditawari pekerjaan tersebut mau mendaftarkan diri. “Dulu pertama kali saya ditawari oleh ketua RW 011 waktu itu Bapak Haji Rudi Hartoyo, kebetulan saya aktif sebagai karang taruna dan majelis musholla, gak cuma saya sih semua pemuda juga tapi banyak juga yang gak mau karena tahu pekerjaanya membersihkan saluran”, sahut Dwi.

Pekerjaan PPSU yang berfokus pada kebersihan lingkungan pada awalnya dianggap sebagai pekerjaan rendah oleh sebagian masyarakat. Namun, mendulang tanggapan positif setelah masyarakat merasakan perubahan signifikan di lingkungan tempat tinggal warga saat ini. Menyapu jalanan, membersihkan saluran, memangkas dahan pohon yang sudah lebat, membabat rumput liar dengan merawat taman dan jalanan setiap harinya membuat pekerjaan PPSU dihargai oleh masyarakat.

Berbagai bentuk perhatian diberikan warga pada petugas PPSU, ”Kadang dikasih minum sama warga”,kata Dwi “tapi meskipun begitu kita tetap ada aturannya, gak boleh memungut biaya sepersenpun dari masyarakat dan gak boleh merokok di depan umum”, tambahnya. Segala aktivitas PPSU nyatanya tetap dipantau tidak hanya oleh koordinator lapangan tetapi juga oleh warga melalui apilkasi Clue atau melapor pada kelurahan agar PPSU tetap disiplin dalam bertugas.

Meskipun sehari-hari menjalani rutinitas yang menyita tenaga selama delapan jam sekali shift, gaji yang diberikan sebanding dengan usaha yang ditorehkan. Dwi yang sudah berkeluarga pun mengaku bahwa gaji yang didapatkan dari PPSU cukup untuk sehari-hari, “Gaji diawal se UMP (DKI Jakarta) 2.750.000,00 terus naik 3,3 juta dan sekarang 3,6 juta” Jelas Dwi.

Setiap PPSU juga diberikan tunjangan pasar murah terutama bagi yang sudah berkeluarga dengan menyisihkan Rp100.000,00 di ATM Bank DKI untuk menebus bahan pangan seharga Rp85.000,00 meliputi 5 kilogram beras, 15 butir telur, 1 ekor ayam, dan 1 kilogram daging sapi, serta asuransi BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan. Tunjangan pasar murah diberikan setiap bulan diluar tunjangan hari raya.

Sebagai PPSU, Dwi bangga karena selain mengabdi pada lingkungan dan masyarakat, kebiasaan pemuda yang sering nongkrong di daerahnya juga berkurang. Sebagian besar dari mereka telah bekerja sebagai PPSU dan memiliki kehidupan yang lebih baik. “Dulu anak-anak suka nongkrong, begadang, sekarang lebih teratur karena udah pada kerja”

Erry Oktora (24), salah seorang anak muda yang merasakan perubahan hidup setelah bergabung sebagai PPSU sejak 2015. Foto: natas/Kitana Larasati

Kehidupan pemuda yang lebih teratur juga dirasakan oleh Erry Oktora (24) yang juga petugas PPSU angkatan 2015 bersama Dwi. Sebelumnya Erry juga ikut nongkrong bersama pemuda lainnya. Namun, saat ini selain bekerja, ia pun tengah menjalani paket C.

“Lagi jalanin paket C sampai bulan maret, kalau datang (sekolah) pas ada ujian aja, saat pelajarannya enggak karena kerja, jadi dapat toleransi” Erry melanjutkan, “Kalo soal pergaulan kembali ke sifatnya masing-masing tapi kita dididik di PPSU buat jangan sia-siain waktu”.

Setiap harinya Erry dan PPSU lainnya mendapatkan shift yang berbeda setiap minggunya. Di saat mendapat shift siang dari pukul delapan pagi hingga pukul empat sore, pekerjaan diawali dengan apel di kelurahan, namun khusus untuk shift tersebut kecuali shift pagi dan malam.

Penulis pernah mengikuti kegiatan Erry setelah bekerja membersihkan saluran, dengan sapu tangan bernoda hitam, Erry melanjutkan tugas untuk mengambil sisa dahan pohon yang masih tersisa di jalan oleh pekerjaan tim cropping dahan pohon. Teman – teman di PPSU menganggap Erry sebagai robot karena sifatnya yang terus bekerja tanpa kenal henti pada saat jam kerja, hingga sampai rumah dengan letihnya dan pakaian yang serba kotor, sehingga layak disebut gelar demikian.

Dibalik usahanya yang giat, Erry memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi sembari menabung untuk biaya pendidikannya, “Mau kuliah malam, tapi belum tahu mau jurusan apa” kata Erry, “Soalnya kan butuh sarjana, gak selamanya bekerja di PPSU”, imbuhnya. Menurut Erry, PPSU menarik baginya karena menjunjung tinggi gotong royong dan kebersamaan, “Kalo lagi enggak ada duit, anak-anak ngopi sering joinan, rokok juga joinan, padahal baru saja kenal”, jelasnya.

Rahmawati, kepala seksi lingkungan, prasarana dan sarana, pembangunan hidup Kelurahan Jati. Foto: natas/Kitana Larasati

Pekerjaan sehari-hari menghadapi polusi Jakarta dan kebiasaan merokoknya berdampak pada riwayat penyakit paru-paru yang dimiliki Erry. Hal tersebut menjadi perhatian Rahmawati selaku Kepala seksi lingkungan, prasarana dan sarana, pembangunan hidup Kelurahan Jati dalam perawatan kesehatan bagi seluruh petugas. Contohnya seperti Erry, Rahmawati meminta Erry untuk bekerja di Kelurahan Jati agar bisa mengawasi kondisi Erry, “Kalau dia capek saya suruh istirahat tapi dia bosan di sini jadi saya lepas ke lapangan tapi saat sudah membaik”, Jelasnya.

Evaluasi dan pengawasan selalu dilakukan oleh pengawas kelurahan hingga kecamatan untuk menjaga kualitas kinerja petugas PPSU terutama di zona yang kotor sekalipun dan memantau kondisi para petugas PPSU saat bekerja. Rahmawati menambahkan dampak keberadaan PPSU terhadap sikap masyarakat saat ini “Saking baiknya sekarang warga jadi agak manja ya soalnya ngandelin tapi itu memang kerjaan kita sih”, ujar Rahmawati.

Erry, Dwi, dan seluruh petugas PPSU mengadu nasib di Ibu kota yang dikenal keras kehidupannya dengan berbagai pekerjaan dan risiko yang menanti. Namun, Pemerintah DKI Jakarta selalu mengupayakan program untuk menurunkan angka pengangguran dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik yang secara nyata kepada warga DKI Jakarta.

Penulis dan reporter: Kitana Larasati

Editor : Radixa Meta Utami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *