Pengungsi Suriah: Di antara Agama, Politik, dan Kekuasaan

Sudah enam tahun Perang Sipil di Suriah berlangsung. Perang yang berawal dari Revolusi Arab yang dimulai akhir tahun 2010 silam. Revolusi Arab mengemukakan ide anti-otoriter dan menginginkan pergantian rezim-rezim yang korup di mayoritas negara Semenanjung Arab dan Afrika Utara. Protes-protes yang dilakukan awalnya dengan anti-kekerasan pun berlangsung di berbagai negara dan pada awal tahun 2011 mulai dilakukan demonstrasi menolak pemerintahan Presiden Suriah, Bashar al-Assad. Bashar al-Assad yang telah berkuasa sejak tahun 2000 ini dianggap korup dan banyak melakukan pelanggaran hak asasi manusia dengan melakukan penangkapan-penangkapan terhadap lawan politiknya.

Pada 6 Maret 2011 ditangkapnya 15 pelajar yang menuliskan grafiti di tembok-tembok kota yang bertuliskan “Rakyat menginginkan runtuhnya rezim.” Hal itu memicu demonstrasi besar yang dilakukan setelah shalat Jumat pada 18 Maret, demonstrasi ini dibubarkan secara paksa dengan gas air mata dan meriam air. Akhirnya pihak aparat pun melakukan pembubaran dengan tembakan senjata api yang mengakibatkan kematian empat orang. Kekisruhan terus berlangsung dengan terjadinya pembakaran kantor partai Ba’ath  (Bashar al-Assad) yang dibalas oleh aparat dengan penembakan demonstrator dan penangkapan-penangkapan lawan politiknya.

Pada bulan Juli 2011 para demonstran mulai melawan dengan melakukan penembakan    ke pihak aparat dan beberapa tentara Suriah pun mulai bergabung dengan para demonstran. Mereka mulai memanggil diri sebagai Tentara Pembebasan Suriah, dengan begitu konflik yang tadinya dimulai dengan demonstrasi damai ini berubah menjadi Perang Sipil yang tidak berkesudahan.

Para kaum ekstremis dari berbagai belahan dunia pergi ke Suriah untuk bergabung dengan pihak pemberontak yang memiliki pikiran untuk membebaskan kaum Sunni dari penindasan Syiah. Seiring berjalannya waktu, Perang Sipil di Suriah ini berubah menjadi Perang Proksi antara kaum Shia yang dipimpin oleh Iran dan kaum Sunni yang didukung oleh negara-negara Semenanjung Arab. Perang Suriah pun semakin meluas ketika Rusia dan Amerika Serikat turun tangan di mana Rusia adalah sekutu terdekat Assad dan Amerika Serikat melakukan pelatihan serta pendanaan terhadap kaum pemberontak. Tahun 2014 sesuatu terjadi yang mengubah total peperangan di Suriah, grup Al-Qaeda yang berbasis di Irak memecah diri karena perselisihan internal. Kemudian grup itu menamakan dirinya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). ISIS pun  akhirnya menjadi musuh daripada Al-Qaeda itu sendiri, ISIS dengan cerdiknya memanfaatkan kekisruhan yang terjadi di Suriah untuk mencaplok tanah kekuasaan dengan bertempur dan memberontak.

Suku Kurdi di Utara Suriah, di mana suku Kurdi telah mendeklarasikan untuk memisahkan diri dari pemerintahan Suriah. ISIS pun memperoleh kesuksesan dengan bertempur. Mereka (ISIS dan suku Kurdi-red) dapat mendirikan sebuah negara kecil yang mereka sebut sebagai Khilafah. Tidak merasa cukup mendapatkan kekuasaan di tanah Suriah, ISIS pun memperluas daerah kekuasaannya ke daerah Irak, di mana Irak sendiri pun baru dilepas oleh penjagaan Amerika Serikat dan sedang mengalami konflik sektarian.

Kekacauan selama enam tahun ini tentunya sangat menyiksa rakyat sipil, di mana semua pihak yang terlibat melakukan kejahatan perang seperti penggunaan senjata kimia, eksekusi massal dan penyiksaan kepada tahanan-tahanan perang. Pada tahun 2015 arus kedatangan pengungsi Eropa mencapai tingkat tertingginya setelah Perang Dunia II. Suriah tentunya menjadi penyumbang terbesar dari arus pengungsi ini. Rakyat Suriah terjebak di antara pasukan pemerintah. Pemberontak dan ISIS tentunya tidak ada pilihan lain selain mengungsi. Sepertiga populasi Suriah telah meninggalkan tempat tinggal dan lebih dari 4 juta orang telah lari meninggalkan Suriah.

Mayoritas dari populasi pengungsi ini ditampung oleh negara-negara tetangga Suriah, seperti Iraq, Lebanon, Yordania dan Mesir, sedangkan negara-negara Teluk Arab dan Iran yang lebih kaya mengambil peranan dalam perang Suriah—menerima sangat sedikit sekali pengungsi. Hal ini tentunya sangat mengecewakan di mana konflik yang dibantu pendanaannya oleh mereka tetapi lepas tangan akan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Suriah.

PBB dan Program Pangan Dunia yang berada dibawah FAO tentunya tidak siap untuk menangani jumlah pengungsi yang begitu besar. Hal ini berdampak terhadap kondisi-kondisi pengungsi yang sangat memprihatinkan. Banyak pengungsi yang merasa kondisinya tidak akan berubah dalam waktu yang singkat, maka banyak pula yang mencari suaka ke daratan Eropa. Namun sama halnya dengan PBB, negara-negara di Eropa ini tidak siap untuk menerima dan memberikan fasilitas yang layak kepada pengungsi dalam jumlah besar.

Di dalam peraturan Uni Eropa para pengungsi harus ditampung terlebih dahulu di negara-negara mereka pertama kali datang, sebelum diberikan suaka oleh negara lain. Hal ini tentunya sangat memberikan masalah dan tekanan yang besar terhadap negara-negara di perbatasan Uni Eropa di mana pengungsi Suriah pertama kali menginjakan kakinya. Yunani yang sedang mengalami krisis ekonomi dan hampir membuat negara itu bangkrut tentunya tidak bisa melakukan apa-apa terhadap para pengungsi yang menyebabkan banyaknya pemandangan memprihatinkan di berbagai pulau-pulau resort turis di Yunani.

Negara-negara di dunia seharusnya bersatu dalam mengatasi tragedi kemanusiaan ini, namun justru yang terjadi adalah sebaliknya mereka menelantarkan para pengungsi ini dan tidak memberikan bantuan sama sekali kepada negara-negara yang menampung para pengungsi dengan jumlah besar. Pada tahun 2014 Inggris melakukan lobi untuk menghentikan operasi Mare Nostrum. Operasi Mare Nostrum dilakukan oleh pemerintah Italia dan didukung oleh Uni Eropa untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan guna mencegah tenggelamnya para pengungsi yang melakukan perjalanan melalui rute Laut Mediterania. Tentunya tidaklah manusiawi sebuah program yang dirancang untuk menyelamatkan banyak nyawa para pengungsi dihentikan hanya untuk meminimalisir jumlah pengungsi yang mendarat di Eropa.

Persepsi masyarakat di seluruh dunia berubah ketika sebuah foto bocah pengungsi bernama Alan Kurdi yang tewas tenggelam dan terdampar di pantai dekat kota Bodrum, Turki— yang menjadi viral. Jerman langsung mengambil tindakan untuk menerima pengungsi Suriah tanpa pengecualian dan menargetkan untuk menerima 800.000 pengungsi pada 2015—melebihi dari jumlah pengungsi yang diterima Uni Eropa pada tahun 2014 yang hanya berkisar 300.000 pengungsi. Namun hal tersebut ternyata membuat Jerman sendiri kewalahan dan menutup perbatasannya beberapa hari kemudian dan meminta Uni Eropa untuk melakukan tindakan bersama dalam menampung para pengungsi.

Namun ada ketakutan besar yang konyol di negara-negara Barat terhadap para pengungsi yang mayoritas beragama Islam. Mereka (pengungsi-red) yang memiliki angka kelahiran tinggi dari masyarakat Eropa pada umumnya dipercaya akan menggantikan masyarakat Eropa dan menjadikan Eropa sebuah benua Islam. Ketakutan ini sangat tidak beralasan karena jika Uni Eropa menerima seluruh pengungsi Suriah yang berjumlah sekitar 4 juta orang dan semuanya beragama Islam. Angka penganut Islam di Uni Eropa masih tetap minoritas yang berjumlah 5% dari total populasi. Angka kelahiran di orang Eropa asli memang lebih kecil daripada angka kelahiran Muslim di Eropa, tetapi angka kelahiran Muslim di Eropa yang diperlihatkan data statistik akan turun dan menyesuaikan dengan tingkat pendidikan dan standar kehidupan mereka.

Di samping itu, mayoritas penduduk Suriah sebelum Perang Sipil dimulai memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan populasi di Suriah sebelum Perang Sipil pun menyusut bukan bertumbuh. Pikiran terhadap pengungsi yang meningkatkan angka kriminalitas pun sangat menyesatkan, pengungsi yang telah menjadi imigran pada umumnya melakukan angka kriminalitas yang lebih kecil dari penduduk asli. Ketika sudah dapat berkerja mereka pun akan berkontribusi lebih besar kepada komunitas. Pengungsi Suriah pun mayoritasnya adalah pekerja profesional dengan tingkat pendidikan tinggi yang sangat dibutuhkan untuk menggantikan tenaga kerja Eropa dengan rata-rata usia yang tinggi.

Uni Eropa adalah perkumpulan negara-negara kaya yang sangat kuat secara ekonomi. Mereka berisikan negara-negara maju dengan sistem politik yang bagus, demokratis, infastruktur yang telah tertata dan industri yang besar. Negara-negara Uni Eropa bisa saja menampung seluruh pengungsi Suriah dan menyelesaikan krisis pengungsi ini jika mereka mau. Secara keseluruhan memang sudah menjadi lebih baik banyak negara yang mulai rela untuk menampung para pengungsi Suriah, namun hal tersebut belum cukup dan berjalan sangat lambat.

Ketika masyarakat Barat bersembunyi dari ketakutan terhadap pengungsi Muslim, seharusnya tercipta sebuah kesadaran bahwa para pengungsi ini melarikan diri dari kematian dan kehancuran. Mereka manusia sama seperti kita, dengan menerima ke dalam negara kita kerugian finansial bukanlah hal seberapa jika dibandingkan nyawa banyak orang. Jika keadaan tetap sama mungkin akan banyak lagi cerita seperti Alan Kurdi. Inginkah kita sebagai manusia diingat di dalam sejarah sebagai makhluk Xenophobic yang mengesampingkan nilai kemanusiaan? Tentunya tidak, masalah ini harus diselesaikan secara cepat dan tuntas. Menjadi manusia selayaknya manusia itulah hal terbaik yang dapat kita lakukan untuk dapat menyelesaikan krisis pengungsi ini.

 

Penulis: Christoper Pelenkahu

Editor : Ludgeryus Angger Prapaska

Sumber Ilustrasi : https://cbsnews1.cbsistatic.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *