Kopi: Gaya Hidup Masyarakat Jogja Di Era Milenial

Seperti yang kita ketahui bahwa di Yogyakarta sejak tiga tahun terakhir ini banyak muncul kedai kopi dengan nuansa anak muda yang mengedepankan sifat milenial. Situasi ini yang sedang digandrungi oleh anak-anak muda di usia SMA ke atas. Kemunculan kedai kopi ini bukan semata-mata hanya menjadi tren belaka, namun dilatarbelangkangi oleh sebuah film bertemakan kopi, yaitu Filosofi Kopi—yang meledak di pasaran. Sejak film tersebut dirilis pada tahun 2013, film tersebut banyak memberikan efek terhadap perkembangan zaman terutama dalam hal kopi. Ada yang mau mengenal dan mempelajari kopi, ada pula yang sekadar ikut-ikutan mengikuti tren agar dianggap menarik.

Menarik di sini mengarah pada gaya hidup anak muda terutama di usia 17 hingga 20 tahun yang sedang dalam masa pencarian jati diri. Para anak muda ini, termasuk saya, mudah terprovokasi dengan adanya tren baru, namun seberapa lama bertahannya tetap bergantung pada masing-masing orang. Banyak anak muda yang “mendadak” minum kopi dan “terobsesi” untuk jadi penikmat kopi. Kemudian tren ini dimanfaatkan oleh para empunya uang untuk membuka bisnis kedai kopi yang terus menjamur hingga jumlahnya mencapai 1200-an kedai kopi, di Yogyakarta. Gaya konsumerisme masyarakat Yogyakarta yang berasal dari berbagai latar belakang menjadi magnet untuk membuka cabang kedai kopi yang didominasi dari Jakarta. Jumlah kedai kopi di Jakarta sendiri hanya sekitar 500 karena biaya tanah yang mahal sehingga para investor lebih memilih untuk membuka cabang di Yogyakarta—dengan harga tanah dan usaha yang lebih murah namun mendapatkan untung yang setara seperti di Jakarta.

Sebagian besar kedai kopi yang berasal dari Jakarta tidak tanggung-tanggung dalam memberikan harga, sekitar 40 ribu rupiah untuk secangkir kopi. Harga tersebut disebabkan dengan kemampuan para barista-nya yang berkualitas dan nuansa tempat yang ditunjukan untuk para elite kelas menengah ke atas. Namun, bukan dari cabang Jakarta saja, kedai kopi yang berasal dari Yogyakarta pun menerapkan hal yang sama, sesuai dengan biaya modal yang telah dikeluarkan.

Di Yogyakarta, beragam kedai kopi hadir dengan berbagai kelasnya, ada yang berada di emperan seperti kopi joss yang sudah menjadi daya tarik wisatawan, ada yang menengah seperti kedai kopi yang biji kopinya yang berasal dari negeri sendiri dengan “harga mahasiswa”, serta ada pula yang kelas atas. Semua kedai kopi tersebut tentu memiliki keunikan dan keistimewaan dalam menarik pangsa pasarnya.

Menyusuri jalanan di Yogyakarta saat ini sepertinya tidak sulit untuk menemukan sebuah kedai kopi, terutama jika berjalan-jalan di bilangan Selokan Mataram ke arah Seturan dan Jalan Kaliurang yang notabene adalah daerah bisnis—seperti setiap 200 meter akan ditemukan kedai kopi baik yang besar maupun kecil. Di daerah Selatan pun demikian, telah menjadi lokasi yang banyak ditemukan kedai kopi meskipun tidak sebanyak di Utara Yogyakarta dengan kelas menengah sebagai pasarnya.

Semakin menjamurnya kedai kopi dengan berbagai sudut artistik yang ditampilkan, menjadi daya tarik para anak muda untuk datang dan ngopi di tempat tersebut. Tidak hanya sekadar menyeruput kopi, namun sebagai tempat bercengkrama, bertukar pikiran, berfoto dengan berbagai latar dan area yang mendukung, serta menjadi wadah proses industri kreatif. Dengan kenyamanan yang diberikan sudah pasti sebagian besar aktivitas yang dijalankan kaum milenial di luar pekerjaannya adalah menghabiskan waktu di kedai kopi—setidaknya sekali dalam sebulan. Baik penyuka kopi maupun tidak, dari banyaknya pilihan yang diberikan, kedai kopi masih menjadi pilihan utama.

Semakin berkembangnya tren ngopi di kalangan anak muda memberikan dampak positif maupun negatif. Positifnya ialah semakin meluasnya pertemanan dan dapat menemukan jaringan kerja lewat keakraban antarindividu. Sedangkan negatifnya adalah semakin membeludak pengeluaran apabila seorang kaum milenial terobsesi untuk mengulik kopi lebih dalam. Hal itu dapat menjadi negatif karena akibat terjadi suatu kehendak yang dipaksakan dan sebenarnya berbeda dengan karakter asli seseorang. Karakter seseorang dapat perlahan berubah karena pergaulan dan menganggap bahwa kopi adalah segala-galanya yang jika tidak mengikuti tren maka dianggap tidak keren.

Dengan adanya stigma tersebut, maka kopi menjadi suatu hal yang dilebih-lebihkan, baik dalam pemahaman mempelajari maupun cara menikmati yang terkesan pamer dan berkompetisi dalam mengulik kedai kopi baru. Sikap arogan timbul dan menjadi sebuah kebanggaan diri apabila dapat mengetahui seluk-beluk kopi secara mendalam. Padahal keunikan dari kopi sendiri adalah rasa dan kenikmatannya tanpa harus dipikir mendalam karena bertujuan untuk menenangkan pikiran, sebelum maupun sesudah mengerjakan aktivitas yang penat. Embel-embel yang menunjukkan kopi adalah sesuatu yang berharga seharusnya tidak perlu ditunjukkan secara berlebihan, cukuplah dengan menikmatinya saja. Apabila ingin mengembangkan kekayaan alam di negeri sendiri, silakan menikmati biji kopi yang dihasilkan para petani lokal dengan menikmati rasa dan keindahan alam yang disajikan oleh semesta.

Esensi dari kopi sendiri tetap bergantung dari sudut pandang setiap orang, ada yang setuju dengan hal di atas maupun tidak. Namun, berdasarkan yang terjadi di kalangan milenial Yogyakarta dewasa ini. Alangkah baiknya jika kopi dinikmati dengan apa adanya tanpa harus dilebihkan-lebihkan agar gaya hidup masyarakat tidak berubah, dari hal kecil sekalipun supaya Yogyakarta tidak kehilangan citranya sebagai kota yang sederhana dan membuat orang-orang nyaman. Pada intinya semua kopi itu baik hanya persoalan selera tiap orang saja yang berbeda-beda.

Penulis: Kitana Larasati

Editor : Ludgeryus Angger Prapaska

sumber ilustrasi : http://yarr.me

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *