Di Balik Jeruji

“Saya tak membenci orang-orang itu. Tapi saya membenci tindakan orang-orang itu” (Goenawan Mohamad)

Era milenial membuat orang-orang menjadi kaum individualis. Kaum yang tinggi akan sifat egoisnya. Semua orang, di mana pun, sibuk mengutak-atik smartphone. Entah untuk membaca berita terkini atau untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri di sosial media. Larut dalam kesibukan semacam ini membuat kita lupa akan sekitar, lupa akan apa yang terjadi. Kita hanya asyik dengan diri sendiri. Tanpa disadari, inilah awal dari pengikisan kepekaan sosial.

Kepekaan sosial sebenarnya hal yang sangat sederhana, hanya dimulai dari hal-hal kecil seperti mengucapkan terima kasih, membantu teman yang kesusahan, atau hanya mendengarkan teman curhat saja pun itu sudah bisa diartikan sebagai kepekaan sosial. Dalam ulasan kali ini, saya ingin mengajak pembaca untuk lebih mendalami dan memaknai kepekaan sosial itu sendiri.

Saya ingin mengulas sedikit mengenai kehidupan teman-teman kita di penjara. Teman-teman kita yang hidupnya dibatasi, bukan membatasi (seperti kehidupan di zaman sekarang ini). Mengapa saya tidak menyebut mereka napi atau orang kriminal? Sekalipun mereka telah berbuat kelalaian, mereka adalah manusia yang sama derajatnya dengan kita. Sebagai masyarakat umum, kita sudah termakan oleh pandangan orang lain bahwa napi itu adalah orang jahat yang harus dihukum. Hal inilah yang membuat kita menjadi tidak peduli dengan mereka. Tidak peduli karena mereka adalah orang jahat dan kriminal.

Dinginnya Tembok Penjara

Penjara adalah tempat yang menyeramkan. Itulah hal yang terbesit di pikiran saya saat diajak oleh beberapa teman untuk mengunjungi Lapas Cebongan di daerah Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sebenarnya kunjungan ini dilakukan dalam rangka ibadah bersama dengan teman-teman di sana. Jujur, saya agak ragu untuk masuk ke sana. Ragu mengenai keamanan diri saya sendiri. Karena seperti yang kita tahu, media telah mendoktrin kita bahwa penjara adalah tempat sekumpulan orang-orang yang telah melakukan perbuatan kriminal. Tidak heran kalau saya awas dengan lingkungan sekitar.

Saat saya melihat kehidupan di sana, sungguh berbeda dengan apa yang terbayangkan sebelumnya. Saya tidak melihat napi atau orang jahat. Saya hanya melihat sekumpulan orang yang sedang mengisi waktu di hari pagi. Santai dan tidak ada beban. Dalam hati sejujurnya saya salut akan ketabahan mereka dalam menjalani hukuman. Mereka seakan memilih untuk menjalani, bukan meratapi.

Kemudian saya mulai masuk ke dalam aula kecil yang sudah dipersiapkan untuk dilaksanakannya ibadah. Senyum ramah menyambut kedatangan saya dan teman-teman. Sungguh saya merasakan kehangatan yang berbeda. Kami berbincang-bincang ringan dan mencoba merangkul mereka. Menyadarkan bahwa mereka tidak sendirian. Mereka pun sangat terbuka dan kami merasa bahwa kedatangan ini merupakan sesuatu yang mereka syukuri. Disela perbincangan, diam-diam saya mengamati mereka. Saya melihat bahwa ini bukan tempat kumpulan orang jahat tetapi ini adalah tempat di mana orang-orang yang lalai dalam menanggapi hati nuraninya dibina dan dibimbing untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Sisi Lain

Banyak hal yang dapat kita petik dari pengalaman ini. Pertama, tidak selamanya sesuatu yang negatif memiliki makna yang negatif pula. Tergantung dari sudut pandang siapa yang kita pakai. Di zaman sekarang, kita terkadang terlalu cepat dalam menyimpulkan sesuatu. Memang tidak salah tetapi orang yang bijak adalah dia yang dapat melihat semua masalah dan fenomena dari berbagai sudut pandang, terlebih kita sebagai mahasiswa. Selain dituntut untuk berpikir kritis, kita juga diharapkan menjadi pribadi yang bijak dalam menanggapi segala sesuatunya.

Kedua, belajar melihat sekitar. Kita harus melebarkan mata di sekeliling lingkungan. Jangan membatasi penglihatan pada benda pipih yang sering kita bawa. Memang banyak sekali wawasan yang bisa kita dapat dari mesin pencari (walaupun kadang masih saja menyesatkan pembacanya) tetapi ada hal-hal yang hanya bisa didapat dari pengamatan dan pengalaman langsung.

Pernahkah terbesit pertanyaan, siapakah orang yang paling miskin di dunia ini? Jawabannya adalah teman-teman di penjara. Mengapa? Padahal semua kebutuhan mereka tercukupi, lalu mengapa? Karena mereka miskin akan perhatian dan persahabatan. Stigma masyarakat membuat mereka tidak pernah diperhatikan. Mereka sudah diberi label “orang jahat”. Kalau sudah seperti itu, siapa yang mau mendekat? Jangankan mengunjungi, melewati depan Lapas pun sudah diselimuti rasa takut. Itulah alasan mengapa saya disambut dengan hangatnya oleh mereka saat itu. Mereka rindu mempunyai sahabat yang hanya sekadar menanyakan kabar.

Sebagai mahasiwa, kita harus menjadi pelopor dalam hal-hal seperti ini. Mungkin ini adalah hal kecil tetapi bisa berdampak besar bagi orang-orang di sekitar kita. Janganlah membatasi diri dengan segudang kegiatan tetapi lupa dengan teman sendiri yang sedang mendekam sendirian dalam dinginnya penjara. Mereka membutuhkan rangkulan kita dan tempat berbagi untuk memperoleh dukungan positif. Belajarlah untuk menjadi mahasiswa yang peka akan lingkungan sosial dan melihat semua fenomena dari berbagai sudut padang. Jangan terpengaruh oleh stigma yang ada di dalam masyarakat. Mahasiswa diberikan kebebasan untuk mengemukakan aspirasi. Keistimewaan ini ada baiknya jika kita pergunakan sebagai sarana menyuarakan apapun yang perlu kita suarakan untuk membuat suatu perubahan. Kalau bukan mahasiswa, siapa lagi?

Penulis: Agnes Pearlyta

Editor : Ludgeryus Angger Prapaska

sumber ilustrasi : https://www.thesiouxempire.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *