Jogja Menolak Diam

               Pukul 21:50 kami (natas) sampai di tugu Pal Putih Yogyakarta. Keramaian masyarakat yang bersantai di tugu, menemani aksi solidaritas yang dilakukan oleh sejumlah seniman dan musisi yang menaruh kepedulian terhadap masalah yang menimpa masyarakat di Kecamatan Temon, Kulon Progo. Acara bertajuk Panggung Budaya: Doa dan Solidaritas bagi Warga Kulon Progo. Diisi dengan musik dan pembacaan puisi dari Deugalih, Shoppinglist, FJ Kunting, Irfan R Darajat, Kepal SPI, Rio Satrio, Sisir Tanah, Terasiring, Umar Haen dan perpustakaan jalanan. Di depan pos lantas nyanyian-nyanyian dan puisi-puisi perjuangan untuk masyarakat di Kecamatan Temon, Kulon Progo dikumandangkan. Kepulan asap rokok yang dihembuskan dari mulut dan hidung para massa beterbangan ke udara, menemani massa yang berkumpul di lingkaran perjuangan. Nampak dalam kerumunan massa, pria dan wanita sama-sama duduk bercengkerama dengan asiknya. Kumpulan massa membuktikan bahwa masih ada semangat untuk memperjuangkan hak tanah milik warga Kulon Progo.

Doc: Benfa/natas, Massa aksi sedang menyaksikan penampilan dari salah satu grup musik yang berpartisipasi dalam solidaritas untuk Kulon Progodi di Tugu Pal Putih

 

                Di tengah-tengah keramaian massa, nampak  kardus-kardus dibawa oleh beberapa pria dan wanita yang tertempel sebuah kertas bertuliskan “solidaritas untuk Kulon Progo”, solidaritas dan sumbangan sukarela diedarkan guna membantu para masyarakat di Kecamatan Temon, Kulon Progo yang digusur secara paksa. Di sisi kanan massa, terlihat sebuah mobil polisi terparkir seakan mengawasi massa yang berkumpul. Lalu lalang mobil dan motor menemani massa yang bersolidaritas untuk petani Kulon Progo. Dalam hiruk-pikuk suara kendaraan yang berlalu lalang, terdengar tembang-tembang perlawanan yang dinyanyikan oleh kawan-kawan musisi. Selain tembang-tembang perjuangan, ada juga pembacaan puisi yang dipersembahkan untuk masyarakat Kulon Progo.

                Pukul 22:45 seorang pria berambut gimbal, dengan jidat terikat kain tenun yang kemungkinan berasal dari salah satu suku di daerah timur, melakukan orasi di tengah-tengah lingkaran massa. Sambil jarinya menjepit sebatang rokok, ia berkisah tentang tragedi pengusuran yang  di lihat langsung  di Kecamatan Temon, Kulon Progo. Bagaimana tanaman dan  rumah warga digusur dengan paksa. “lihatlah, pohon kelapa yang telah tumbuh besar digusur, lihatlah pohon pisang yang besar itu, rumah warga itu, semuanya digusur oleh bego yang akuh itu,”ungkapnya.

             Sekitar pukul 23:10, seorang pria yang berbadan gempal dan menggunakan topi serta kaca mata mengambil alih mic dan meneriakan, Tolak bandara!!! Tolak bandara!!! Tolak bandara!!! sembari mengepalkan tanggan kirinya. Belakangan diketahui bahwa pria berbadan gempal tersebut bernama Ferry. Dia adalah salah satu pemuda yang tergabung dalam Aliansi Tolak Bandara (ATB). Dia mengajak para massa aksi untuk tetap menjaga  solidaritas antara massa aksi dengan masyarakat di Kecamatan Temon, Kulon Progo. Selain itu, dia  menghimbaukan agar kawan-kawan yang bersolidaritas jangan takut serta kawan-kawan harus sering datang ke Kulon Progo untuk mendukung dan menjaga semangat masyarakat di sana. “Jangan pernah menyerah, solidaritas harus terus berlangsung. Teman-teman harus sering datang ke sana untuk menjaga semangat masyarakat Kulon Progo,”ujarnya.

             Ia mengatakan konsolidasi harus terus dibangun, kita tidak hanya ke Kulon Progo, tapi di Jogja juga mengadakan aksi berupa pendudukan kantor Angkasa Pura I di Jalan Solo. Aksi yang dipimpin oleh kawan-kawan dari Aliansi Tolak Bandara (ATB) akan dilaksanakan pada tanggal 6 Desember 2017, pukul 10:00 WIB. Aksi tersebut bertemakan “Tolak NYIA dan Hentikan Penggusuran paksa warga Temon, Kulon Progo”. Tuntutan yang telah dibuat, akan dibacakan pada saat aksi berlangsung,”ungkapnya. Berikut tuntutannya:

  1. Tolak keterlibatan TNI/POLRI dalam proses penggusuran.
  2. Hentikan proses pembangunan bandara (NYIA) di Temon Kulon Progo.
  3. Tegakan HAM di Temon, Kulon Progo.
  4. Usut kasus kekerasan terhadap rakyat di Temon dan solidaritas tolak NYIA.
  5. Hentikan seluruh tindakan kriminalisasi dan represifitas terhadap rakyat di Kulon Progo
  6. Hentikan perampasan lahan prokduktif di Temon, Kulon Progo.
  7. Kembalikan hak tanah warga Temon, Kulon Progo.
  8. Wujudkan reforman agraria sejati.
  9. Hentikan perampasan dan monopoli tanah di Jogjakarta.

             Pukul 23:21, massa melakukan aksi doa bersama untuk masyarakat Kulon Progo. Setelah melakukan doa bersama, pembawa acara melaporkan jumlah uang sumbangan yang berhasil terkumpul sebesar dua juta lebih. Aksi tidak berhenti sampai di situ, pada pukul 23:23, “walaupun tidak ada baliho yang menunjukkan kita sedang bersolidaritas untuk masyarakat Kulon Progo yang diambil tanahnya. Tapi, dengan berkumpulnya kawan-kawan  sudah menunjukan kepedulian kita terhadap masyarakat Kulon Progo“. Ucap salah satu musisi dari Sisir Tanah, sebelum menutup acara tersebut dengan tembang berjudul Lagu Hidup.

Penulis & reporter  : Benediktus Fatubun

Editor                       : Iren Lejap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *