Drama ‘Di Balik 98’

Judul                          : Di Balik 98
Genre                         : Drama
Sutradara                   : Lukman Sardi
Tahun produksi         : 2015
Negara produksi        : Indonesia

             Pada tahun 1998 telah terjadi salah satu peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan di dalam sejarah Indonesia, yaitu kerusuhan 1998 yang berujung pada lengsernya presiden kedua kita, Soeharto. Para mahasiswa sangatlah berperan dalam tumbangnya rezim Orde Baru. Mei 1998 merupakan puncak kerusuhan 1998  ketika para mahasiswa Trisakti turun ke jalan dan melakukan aksi damai ke Gedung MPR. Namun, tidak semuanya berjalan dengan lancar. Terjadi  bentrokan antara pihak polisi dan mahasiswa yang pada akhirnya menewaskan empat mahasiswa Trisakti bernama Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendirawan Sie. Walaupun peristiwa itu telah terjadi 17 tahun yang lalu, tidak akan ada yang bisa melupakan salah satu sejarah kelam Indonesia ini.

           ‘Di Balik 98’ karya Lukman Sardi mengambil latar belakang kerusuhan Mei 1998. Lukman Sardi berkali-kali menekankan bahwa film ini bukan film sejarah yang kental akan unsur politik atau film yang berusaha mengupas tuntas peristiwa kelam Mei 1998 itu. Film ini, ‘Di Balik 98’ mengisahkan tentang sepasang kekasih, Diana (Chelsea Islan) dan Daniel (Boy William), yang merupakan aktivis mahasiswa Trisakti. Diana adalah seorang mahasiswi yang kritis akan pemerintahan Soeharto. Ia bersama mahasiswa Trisakti yang lain sangat berapi-api dalam melakukan aksi-aksi di jalan demi melengserkan sang Presiden.

            Kemudian, konflik antara Diana dan keluarganya terjadi. Hal ini disebabkan karena kakak Diana, Salma (Ririn Ekawati) adalah seorang pegawai di Istana Presiden, dan kakak iparnya, Bagus (Donny Alamsyah), adalah seorang aparat keamanan. Meskipun pekerjaan kakak dan kakak iparnya masih berada di lingkaran pemerintahan, Diana tetap memperjuangkan idealismenya sebagai mahasiswa untuk menegakkan reformasi. Ia rela pergi dari rumahnya meninggalkan Salma yang sedang hamil besar.

           Diana dan Daniel akhirnya berpisah ketika Daniel memutuskan untuk mencari keluarga dan meninggalkan Diana yang tetap berjuang di jalanan. Pemburuan serta penindasaan terhadap keturunan Tionghoa juga terjadi. Keluarga Daniel yang merupakan keturunan Tionghoa juga ditindas dan diusir dari rumahnya.

           Salma yang sedang hamil besar nekad menyusul Diana, adiknya, di Trisakti. Namun,  ia terjebak di dalam kerusuhan yang terjadi di kota dan dinyatakan hilang. Bagus mengalami pergulatan batin yang luar biasa karena di satu sisi ia harus bertanggung jawab atas kewajibannya  sebagai petugas keamanan, namun di sisi lain, ia sangat khawatir dengan istrinya yang menghilang tanpa kabar. Beruntungnya, Salma yang pingsan telah ditolong dan dirawat oleh seorang warga.

            Selain digambarkan melalui para tokoh yang berhubungan dengan pemerintahan, film ini juga menggambarkan  dari sisi rakyat kecil  yang diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana, dan anaknya yang diperankan oleh Bima Azriel. Rakyat kecil yang  tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi di negerinya sendiri. Ia juga tekena dampak dari kerusuhan 1998, yaitu terpisah dari anaknya.
    Ketika reformasi berhasil ditegakkan dan Soeharto mundur sebagai presiden, keadaan berubah. Diana yang semula membenci kakak iparnya, Bagus, yang seorang aparat keamanan , mencoba berdamai dengan  kakak iparnya. Mereka berdua mendapatkan informasi bahwa Salma telah dibawa ke rumah sakit oleh orang yang menolongnya. Mereka akhirnya berkumpul kembali setelah kerusuhan 1998 sempat memecah-belah keluarga mereka.

            Diana dan Daniel bertemu 17 tahun kemudian. Ketika Jakarta telah menjadi ibu kota yang aman dan tentram kembali. Hanya saja, mereka tidak lagi sepasang kekasih. Mereka telah menjalani hidup mereka masing-masing. Diana menjadi seorang guru TK, namun sifat tegas dan semangatnya masih terpancar jelas di matanya. Daniel tinggal di luar negeri dengan adiknya dan kembali ke Jakarta untuk menaburkan abu mediang ayahnya di bekas rumahnya dahulu.

             Banyak para penonton yang mengharapkan film ini bukan film drama yang berlatar belakang tahun 1998, tapi benar-benar  mengharapkan  film tentang fakta sejarah Indonesia di tahun 1998. Tidak sedikit pula penonton kecewa dengan film garapan Lukman Sardi ini. Namun, penggambaran secara visual  di film ini perlu diapresiasi. Ia semaksimal mungkin membuat situasi di dalam film ini persis dengan peristiwa kerusuhan tahun 1998. Hal-hal seperti penggambaran demonstrasi, kerusuhan dan logo-logo stasiun TV di tahun 1998 juga ditampilkan seperti apa yang ada di tahun itu.

            Sebagai film fiktif berlatar belakang sejarah 1998, film ini berhasil membuat penonton mengenang kembali salah satu sejarah kelam Indonesia tersebut. Melalui film ini, penonton juga mampu membayangkan bagaimana gentingnya situasi masa itu. Melalui film ini pula, kita diajak untuk berkaca dan merenungkan peran serta semangat mahasiswa di era 98. Tanpa mahasiswa, reformasi tidak bisa ditegakkan. ‘Di Balik 98’ mengajarkan kita sebagai mahasiswa untuk kembali bangkit dan tidak hanya bersikap pasif melihat situasi di negeri kita sendiri. Jangan biarkan apa yang telah diperjuangan para mahasiswa di tahun 1998 berakhir sia-sia karena sikap kritis di kalangan mahasiswa yang telah memudar.

    ResensorVincentia Krisna

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *