Kawal Penembakan Paniai, Gempa-KPH-Berapi Gelar Mimbar Bebas

Anggota Gempa-KPH-Berapi berorasi dalam mimbar bebas
Dok. natas

YOGYAKARTA – Sabtu (28/3) mahasiswa Papua yang menamai diri Gempa-KPH-Berapi (Gerakan Melawan Lupa Menuntas Kasus pelanggaran HAM Berat Paniai Papua) menyatakan sikap dan tuntutannya dalam mimbar bebas terkait peristiwa penembakan di Kabupaten Paniai, Papua. Dalam aksi di Titik Nol Kilometer tersebut, pengunjung diberi kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya mengenai kasus penembakan yang terjadi pada (8/12) tahun lalu.
Hendrik Kobepa, juru bicara aksi mengatakan bahwa acara ini digelar untuk menggalang solidaritas seluruh warga Indonesia yang mendukung kemanusiaan, terutama warga Yogyakarta. “Kita desak Jokowi untuk membuat lembaga independen yang terdiri dari berbagai elemen untuk menuntaskan kasus penembakan di Paniai,” ujar mahasiswa APMD itu.
Beberapa mahasiswa dalam orasinya mengutarakan kekecewaan atas isu yang berkembang bahwa korban yang ditembak merupakan anggota OPM (Organisasi Papua Merdeka). “Pihak Polda Papua dengan Pangdam Papua jangan membelokkan isu,” ujar koordinator umum Gempa-KPH-Berapi, Demianus Nawipa. Seorang pengunjung asal Bantul, Renky Sujarwo, mengaku tertarik untuk mendekat setelah melihat foto-foto yang ditampilkan oleh panitia aksi. “Pernah dengar beritanya, tapi tentang kebenarannya saya belum tahu,” tuturnya saat ditanyai tentang kasus Paniai.
Aksi ini merupakan kelanjutan dari berbagai usaha pengawalan yang mereka lakukan. Sehari setelah kasus penembakan sekaligus sehari sebelum hari peringatan HAM se-dunia pada (9/12) mahasiswa Papua membuat aksi di depan Bundaran UGM. Mereka berhasil menemui presiden Jokowi yang telah selesai menghadiri sebuah seminar di UGM. Pada (18/3) Gempa-KPH-Berapi menadakan Seminar Publik di Wisma Mahasiswa Papua, lalu pada (21/3) mereka menggelar mimbar bebas di depan kampus STPMD ‘APMD’. Tanggal 1 April 2015 rencananya Gempa-KPH-Berapi akan mengadakan aksi damai dari Wisma Mahasiswa Papua ke Titik Nol Kilometer.
Dalam tiap aksinya, Gempa-KPH-Berapi mendesak pemerintah untuk mengusut kasus penembakan Paniai secara adil dan demokratis. Sebab, pelanggaran HAM berat tersebut telah menewaskan 5 orang siswa SMA Negeri 1 Paniai Timur. Kelima orang tersebut adalah Simon Degei (18), Otianus Gobai (18), Alfius Youw (17), Yulian Yeimo (17), serta Abia Gobai (17). Tak hanya itu, mereka juga menuntut pemerintah untuk menyelesaikan semua pelanggaran HAM yang terjadi di tanah Papua sejak tahun 1960-an dan menarik militer organik maupun non-organik dari Papua.
Penulis: Rosa Vania Setowati
Reportase bersama: Eva Tri Rusdyaningtyas, Frederikus Boli Lolan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *