Bumi Makin Panas, Film dan Strategi Counter-Narasi di Awal Orde Baru

Jumat (17/4) LPPM mengadakan pemutaran film Bumi Makin Panas. Acara ini diadakan di ruangan seminar LPPM Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Acara di moderatori oleh Dr. Novita Dewi serta di temani oleh kedua pembicara Dag Yngvesson (University Of Minnesto, USA) dan Alit Ambara (Institut Sejarah Sosial Indonesia/ ISSI). Acara di awali dengan pemutaran filem Bumi Makin Panas, karya Ali Shahab. Film yang berdurasi kurang lebih satu jam mendapat perhatian penuh peserta yang menghadiri acara tersebut.

Setelah pemutaran, acara dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Bumi Makin Panas mengangkat tentang kehidupan seorang wanita yang harus menjadi pelacur demi bertahan hidup. Film yang dirilis pada tahun 1973 tersebut menawarkan perspektif lain dari sisi politik, ekonomi, dan sosial pada kehidupan masyarakat masa orde lama dan masa orde baru.

Dag Yngvesson berpendapat bahwa film Bumi Makin Panas adalah perbandingan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik pada masa Orde Baru dan Orde Lama. Film ini juga memberi pandangan lain tentang GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) pada tahun 1965.

“Saya tertarik dengan konsep politik dan siasat politik yang sangat populer, film ini saya lihat sebagai konter narasi. Konter narasinya karena, dia (Bumi Makin Panas -red) menunjukan adanya ideologi, klaim-klaim, janji-janji yang baik dari orde baru sebenarnya tidak berfungsi sama sekali. Fokus saya adalah tentang politik yang populer, ketegangan antara pesan politik dan yang dijadikan wacana populer, saya tidak bermaksud mengangkat tentang GERWANI, tetapi, jika mereka (masyarakat-red) mengikuti diskusi ini, mereka akan tahu”. Tutur Dag Yngvesson.

Reporter: Benediktus Fatubun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *